Home / Refleksi / Bukan Nirempati, Hanya Sedikit Kaku

Bukan Nirempati, Hanya Sedikit Kaku

Hari ini salah satu keponakanku dirawat di RS. Sebenarnya sudah dari hari Kamis, tapi karena pekerjaan, aku baru bisa menjenguk di hari Sabtu ini.

Malam sebelum keberangkatan, aku memantapkan diri untuk bepergian ke Jakarta. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Aku harus bawa apa?”

Aku benar-benar enggak tahu harus bawa apa. Buahkah? Makanankah? Tapi aku enggak tahu apakah keponakanku suka atau mau makan makanan yang aku bawa.

Akhirnya, aku masih bingung hingga pagi hari keberangkatan. Bahkan aku belum menyiapkan tiket bus yang harus dipesan dulu di aplikasi. Alhasil, tiket untuk jam 9 sudah penuh dan akhirnya aku pilih jam 10.

Selama di perjalanan aku merenung. Kadang rasanya aku ini orang yang tidak punya empati. Aku enggak tahu harus berbuat apa ketika ada hal-hal seperti ini. Seperti saat aku tinggal di rumah nenek dan nenekku meninggal, aku juga enggak tahu harus menyiapkan apa sampai omku datang dan menyuruh untuk merapikan rumah.

Kadang rasanya aku menjadi orang kikuk yang tidak terbiasa dengan pelukan hangat. Ketika temanku sedih, aku enggak tahu kata-kata apa yang harus aku keluarkan. Haruskah aku menghiburnya, sekadar mendengarkan, atau bahkan memberikan pelukan?

Hal tersebut tidak ada di buku pelajaran dan itu harus kita pelajari dari pengalaman. Saat di penghujung perjalanan, aku sadar bahwa aku sebenarnya bukan orang yang nirempati, tapi aku hanya sulit untuk mengekspresikan perasaanku. Yaaa… bisa dibilang aku orang yang kaku.

Saat temanku sedih, aku hanya mendengarkan dan memberikan tanggapan dengan memikirkan perasaan dia. Saat nenekku meninggal, aku menangis sesenggukan saat melihat wajah nenekku. Itu kan tidak akan terjadi jika aku orang yang nirempati.

Sesampainya di tujuan, aku ingat bahwa keponakanku ingin makan agar-agar namun tidak bisa karena agar-agar tinggi gula :’D. Akhirnya kuputuskan membeli agar-agar yang rendah gula dan dia suka.

Mungkin memang aku orang yang kaku, sulit mengekspresikan perasaan, dan sulit mengerti perasaan orang. Tapi sedikit demi sedikit, aku belajar memahami perasaan manusia dan berusaha untuk menjadi orang yang bisa menanggapi perasaan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *