Disaster 22 Januari
Kemarin adalah hari yang serba chaos. Akhir-akhir ini, Bekasi dan sekitarnya memang sedang diguyur hujan deras sepanjang hari. Kamis, 22 Januari 2026, adalah hari yang akan selalu kuingat.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan sebuah bencana. Pagi hari diawali dengan hujan lebat. Dari rumah langit memang sudah mendung, dan baru beberapa kilometer ditempuh, rintik hujan mulai turun. Aku pun menepi untuk memakai jas hujan dan melanjutkan perjalanan ke kantor. Semakin jauh kutempuh, semakin deras hujan terasa. Tanganku bahkan mulai perih karena terkena percikan air hujan yang keras.
Jalanan mulai macet karena ada banjir di depan. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 07.13, dan posisiku masih di Tambun. Sedikit demi sedikit kendaraan bergerak maju, ternyata banjir di depan sudah setinggi betis orang dewasa. Banyak pengendara berhenti di pinggir jalan, sementara aku diarahkan oleh petugas untuk melewati jalur seberang. Dengan kata lain, aku terpaksa melawan arah. Motorku berjalan pelan. Sambil menengok ke kiri, kulihat beberapa motor berusaha menerobos. Semakin aku melaju, aku melihat mulai banyak orang yang mendorong motornya. Di akhir titik banjir, banyak motor yang parkir untuk memeriksa kondisi mesin. Saat itu aku tidak berpikir panjang; aku tetap melaju agar tidak terlambat masuk kantor.
Sampai di kantor pukul 07.57, aku merasa heboh sendiri. Kupikir banyak yang terlambat, ternyata teman-teman sudah sampai dan rapi. Hanya aku yang kebasahan dan berantakan sendiri, haha. Selama bekerja, hujan tak kunjung berhenti. Kadang reda, tapi tak lama kemudian deras lagi. Begitu terus siklusnya berulang.
Saat jam pulang, aku sempat ragu: menunggu di kantor atau pulang? Karena hujan sempat reda, kumanfaatkan kesempatan itu untuk pulang. Semua aman sampai aku melewati jalan Pantura. Aku lupa kalau Pantura banjir, dan saat sadar, semuanya sudah terlambat. Aku terjebak macet dan tidak bisa putar balik kecuali harus melewati titik banjir terparah di depan RSUD Cibitung. Saat itu, aku hanya ingin pulang dan terlalu lelah untuk menunggu banjir surut.
Dengan bodohnya aku menerobos, toh pikirku banjirnya tidak dalam. Namun, semakin kulaju motorku, air semakin dalam. Aku mulai panik dan akhirnya mematikan mesin agar tidak terjadi korsleting. Kudorong motorku sampai tak terasa air sudah setinggi lutut. Semakin melangkah, kakiku terasa semakin berat dan rasanya tubuhku terombang-ambing. Beruntungnya, aku dibantu oleh seorang mas-mas untuk mendorong motor sampai ke titik surut (terima kasih, Mas).

Saat memanaskan motor, perasaanku campur aduk sambil melihat sekeliling. Banyak motor berhenti, langit gelap, ditambah lampu jalan yang dimatikan. Suasananya mencekam. Banyak warga menonton dari pinggir, banyak yang mendorong motor, bahkan ada yang naik gerobak. Saking fokusnya melihat sekeliling, tanpa sadar aku menyipratkan air dari ban belakangku sampai mengenai orang (maaf ya, Mbak, hehe).
Saat dirasa mesin sudah kering, aku melanjutkan perjalanan. Aku khawatir dengan kondisi motorku karena gasnya tidak stabil dan knalpot mengeluarkan asap putih. Deg, rasanya jantungku mau copot karena ini motor kakakku. Kalau dia tahu motornya rusak, dia pasti akan sangat marah. Selama perjalanan pulang, aku hanya berdoa agar motor ini tidak rusak. Aku mulai gelisah dan merasa bersalah.
Keadaan sungguh kacau balau, rasanya sulit bernapas. Jalanan macet dan bensin sudah mau habis, walaupun untungnya knalpotku sudah tidak mengeluarkan asap putih lagi. Sepanjang jalan aku panik, gelisah, dan sedih; semuanya campur aduk.
Sampailah di rumah, rasanya sungguh lega. Aku bercerita ke Mama dan kakakku, dan sudah diduga, aku dimarahi karena menerobos banjir. Tapi, itulah ganjarannya karena tidak memikirkan risiko.