Ramadan tahun ini terasa berbeda. Sambil duduk di depan monitor memantau progres pekerjaan, tiba-tiba ingatanku melayang ke masa sekolah dulu. Ternyata, “musuh” yang kita hadapi saat berpuasa berevolusi seiring bertambahnya usia dan tanggung jawab.
Dulu, tantangan terbesar saat puasa murni bersifat fisik. Aku ingat betul rasanya berharap setiap hari ada jam kosong agar bisa berleha-leha. Namun kenyataannya, aku tetap harus belajar, bermain basket, dan aktif ke sana kemari hingga tenggorokan terasa kering seperti padang pasir. Fokus utamaku saat itu cuma satu: “Kapan bel pulang bunyi?” supaya bisa segera rebahan di rumah sambil menunggu azan Maghrib.

Ngabuburit dan buka bersama (bukber) versi sekolah pun sangat sederhana. Ajakan bukber datang bertubi-tubi dan rasanya sangat mudah untuk kumpul; tidak perlu pusing mengatur jadwal karena waktu terasa lebih luang. Kalau tidak main game bareng teman, ya tidur pulas tanpa beban pikiran. Saat itu, dunia terasa luas dan waktu seolah berjalan sangat cepat..
Sekarang, sebagai pekerja, rasanya waktu justru berjalan sangat lambat. Di awal Ramadan, setiap kali melihat jam, rasanya jarumnya hampir tidak bergerak. Rasa kantuk yang menyerang karena absennya asupan kopi membuat tubuh harus beradaptasi ekstra.
Namun, memasuki hari ketiga, tubuhku mulai terbiasa. Aku merasa lebih fokus meski tanpa bantuan kafein. Lucunya, aku malah merasa aneh sendiri; kenapa dulu aku merasa harus minum kopi sesering itu?
Perbedaan yang paling mencolok juga terasa saat ingin silaturahmi. Jika dulu bukber tinggal datang, sekarang menjadwalkan bukber bareng teman lama butuh perjuangan logistik sendiri. Kita harus saling mencocokkan jadwal masing-masing yang super padat, dan sering kali lebih sulit terealisasi karena urusan pekerjaan yang tak bisa ditinggal.

Momen ngabuburit pun bergeser maknanya. Jika dulu ngabuburit adalah pilihan untuk bersenang-senang, sekarang ngabuburit berarti berjibaku dengan kemacetan. Di atas motor, aku belajar bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga melatih kesabaran. Kemacetan yang tak terduga memaksaku untuk lebih lihai memprediksi arus jalanan.
Sesampainya di rumah, aku melanjutkan rutinitas dengan jalan kaki sore. Aku berolahraga bersama kakakku yang—katanya—sedang ingin diet. Ramadan kali ini aku jadikan momentum untuk memperbaiki diri, mulai dari pola makan, rutinitas olahraga, hingga jam tidur.

Transisi ini mengajarkanku bahwa kedewasaan mengubah cara kita memaknai ibadah. Ramadan masa sekolah adalah tentang kebersamaan dan kegembiraan fisik, sementara Ramadan masa kerja adalah tentang integritas dan ketangguhan mental.
Apa pun fasenya, esensinya tetap sama: menjadi versi diri yang lebih baik dari hari kemarin.