Seni Mengalah di Jalanan
Berkendara di kota besar memang butuh skill yang luar biasa, apalagi kalau pakai motor. Selain kemampuan belok zig-zag, butuh juga keahlian menyalip kendaraan-kendaraan besar. Di daerah industri, butuh nyali dan keberuntungan untuk bisa mendahului truk raksasa. Kalau berhasil, ya alhamdulillah. Kalau gagal, taruhannya nyawa.
Suatu hari, aku berkendara ke kantor melewati jalan kecil. Tepat di depanku ada truk pembawa bahan bakar, truk Pertamina. Jalannya pelan sekali. Pemotor yang biasanya ngebut-ngebutan pun tertahan di belakang truk besar itu, termasuk aku. Susah menyalipnya karena jalan hanya satu jalur; pun kalau mau menyalip, harus melawan arah.
Semua pemotor mulai mencoba menyalip satu per satu. Jika momentumnya tepat, ada yang langsung bisa; ada juga yang mencoba lalu gagal, dan mencoba lagi untuk kedua kalinya. Sampai tidak terasa, hanya tinggal aku sendiri yang masih tertahan di belakang truk. Apakah ada rasa ingin menyalip seperti yang lain? Tentu ada. Tapi, rasa ragu dan takut mulai mengisi benakku. Takut gagal menyalip, takut tiba-tiba ban meletus atau ditabrak dari arah berlawanan, semua hal kutakutkan sampai overthinking. Kedua perasaan itu terus mengiringi diriku selama perjalanan.

Sampai akhirnya aku melihat tukang gorengan. Aku pun langsung berniat melipir sebentar untuk membelinya, itung-itung sekalian istirahat sejenak dari lelahnya berkendara. Sembari membiarkan truk Pertamina itu pergi duluan. Kubeli 5.000 rupiah: dua tempe dan dua tahu. Selesai membayar dan bersiap berangkat, truk besar yang membuatku ragu dan takut itu sudah menghilang dari pandangan.
Selama sisa perjalanan, perasaan cemas yang tadi kurasakan menghilang begitu saja. Perjalanan jadi adem ayem, dan selang beberapa saat kemudian, aku sudah tiba di kantor.
Memang, karena jajan gorengan, aku tiba lebih lama dari waktu perkiraan. Tapi selama sampai dengan selamat, ya tidak apa-apa. Pun kalau terlambat sedikit masih bisa dikejar. Intinya, selama masih selamat sampai tujuan, itu sudah lebih dari cukup. Sisanya, jika mau jalan lebih ngebut atau berjalan santai, itu kembali ke pribadi masing-masing.
Tapi mungkin, ini bukan hanya tentang berkendara.
Saya juga pernah seperti ini, Suyen. Apalagi kalau menyetir mobil, lebih susah menyalipnya. Jadi, daripada saya jengkel sendiri, lebih baik saya melipir dulu ke pinggir, menunggu yang bikin jengkel itu jauh baru kemudian jalan lagi 😀
Kalau pake mobil harus lebih banyak bersabar ya pak🤣