Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
HarianKegiatan

Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Kedua

By Kallila
August 14, 2026 4 Min Read
0

Hari kedua juga dimulai pagi banget.

Jam lima pagi kami bertiga sudah bangun dan mulai berunding soal hal paling penting pagi itu: siapa yang mandi duluan?

Untungnya rasa lelah dari hari sebelumnya cukup terbayarkan dengan tidur yang pulas di kasur yang nyaman. Bangun pagi masih ada sisa capeknya, tapi badan rasanya sudah jauh lebih enak.

Berbeda dengan Day 1, hari kedua rasanya lebih santai dari sisi persiapan. Banyak kebutuhan acara sudah disiapkan oleh tim Zeze Zahra, Ari, dan Kang Asep.

Aku, Mba Zahro, dan Adzka tinggal membantu merapikan meja registrasi dan beberapa kebutuhan kecil lainnya.

Sementara tugasku masih sama seperti kemarin.

Memastikan kamera siap.

Baterai aman.

Storage aman.

Pokoknya mode anak dokumentasi sudah aktif lagi.

Setidaknya…

sampai beberapa menit sebelum acara dimulai.

“Nan, Jadi MC Ya”

Saat peserta mulai berdatangan dan acara sebentar lagi dimulai, tiba-tiba aku diminta menjadi MC.

Aku sempat kaget.

Karena dua hari ini otakku sudah terbiasa memakai topi sebagai tim dokumentasi. Tiba-tiba beberapa menit sebelum acara dimulai harus ganti topi jadi MC.

Tapi untungnya jam terbang sudah lumayan tinggi. Azeek

Jadi meskipun hampir tanpa persiapan, aku masih bisa membuka acara dengan cukup baik.

Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sedikit materi dari Pak Bos sebelum akhirnya kami semua bersiap untuk berkeliling area Zeze Zahra.

Dan akhirnya…

masuk ke kebun.

Ini sebenarnya bukan pertama kalinya aku berkeliling Zeze Zahra.

Aku sudah beberapa kali melihat area persawahan, kabin, kebun, peternakan, dan berbagai bagian lainnya.

Tapi entah kenapa rasa excitement-nya masih tetap ada.

Setiap berjalan melewati hamparan padi, melihat rumah kabin di tengah area pertanian, sampai masuk ke kebun, rasanya masih seperti sedang melihat pemandangan baru.

Mungkin karena sehari-hari aku lebih banyak bertemu laptop, meja kerja, dan layar.

Jadi begitu melihat area hijau yang luas, rasanya selalu ada sesuatu yang menyenangkan.

Walaupun ada satu hal yang konsisten dari Karawang.

Panasnya nggak main-main.

Masih sekitar jam sepuluh pagi, tapi mataharinya sudah terasa menusuk sampai ke kulit.

Untung pengalaman mengajarkan banyak hal.

Kalau sebelumnya aku mungkin masih sok kuat, kali ini persiapanku jauh lebih matang.

Topi? Bawa.

Sunscreen? Sampai tangan.

Kacamata hitam? Pakai.

Lumayan.

Setidaknya ada sedikit pertahanan menghadapi matahari Karawang yang levelnya memang beda.

Setelah melewati area peternakan dan tempat pengolahan pupuk, kami akhirnya berhenti untuk coffee break.

Dan jujur…

aku saja sudah lumayan capek.

Saat itu aku sempat melihat para peserta dan kepikiran,

“Aku yang jauh lebih muda saja sudah capek. Mereka pasti jauh lebih capek lagi.”

Apalagi sejak pagi kami cukup banyak berjalan di bawah matahari.

Tapi ternyata aku masih melihat semangat di wajah para peserta.

Mereka masih ngobrol, bercanda, dan tetap mengikuti rangkaian kegiatan dengan santai.

Melihat itu rasanya aku jadi malu kalau mau mengeluh.

Kalau mereka saja masih semangat, masa aku kalah?

Dan ternyata sampai sesi berikutnya pun suasananya tetap cair. Peserta masih banyak bercanda dan berinteraksi, sehingga rangkaian acaranya terasa jauh lebih ringan.

Setelah sesi praktik selesai, kami kembali ke kabin untuk ishoma.

Ini momen yang aku tunggu-tunggu. Karena aku akhirnya bisa kembali ke kamar dan regangin badan

Aku rebahan sebentar untuk mengistirahatkan badan sekaligus mengecas kamera untuk sesi berikutnya.

Rasanya nikmat banget.

Setelah jalan cukup jauh di bawah matahari, rebahan beberapa menit saja sudah seperti hadiah.

Setelah makan siang, shalat, dan istirahat sebentar, acara kembali dilanjutkan.

Dan lagi-lagi aku diminta memakai topi MC.

Kali ini sudah tidak sekaget sebelumnya.

Aku membuka sesi setelah istirahat, kemudian acara dilanjutkan dengan materi dari Pak Bos.

Setelah itu semuanya berjalan cukup lancar.

Dokumentasi lanjut.

Acara lanjut.

Peserta masih aktif.

Tahu-tahu…

sudah sampai di akhir sesi saja.

Aku bahkan sempat merasa,

“Hah? Udah selesai?”

Padahal kalau dihitung-hitung, sejak pagi kami sudah melakukan banyak sekali kegiatan.

Capeknya jelas ada.

Tapi rasanya terbayarkan ketika melihat seluruh rangkaian acara akhirnya selesai dengan baik.

Ada satu obrolan di hari itu yang ternyata cukup menempel di kepalaku.

Saat sedang berbicara dengan Pak Supri dari koordinator TBINA, beliau mengatakan kurang lebih begini:

“lingkungan sekitar kita akan menentukan gaji kita”

Awalnya kalimat itu terdengar sederhana.

Tapi semakin kupikirkan, rasanya maknanya bukan cuma tentang gaji.

Yang aku tangkap justru tentang bagaimana lingkungan tempat kita berada bisa memengaruhi cara kita berpikir, cara kita bekerja, kesempatan yang kita dapat, sampai seberapa cepat kita berkembang.

Kalau kita berada di lingkungan yang mendorong kita untuk belajar, mencoba hal baru, mengambil tanggung jawab, dan bertemu dengan orang-orang yang punya pengalaman berbeda, secara nggak langsung value diri kita juga ikut naik.

Dan ketika value kita naik, mungkin hal-hal lain akan mengikuti.

Termasuk gaji.

Lucunya, nasihat itu rasanya langsung bisa kulihat contohnya dari event ini.

Kalau beberapa waktu lalu aku hanya membayangkan pekerjaanku sebatas mengurus project, kali ini dalam satu acara aku belajar membuat proposal, menghitung cost, berhadapan dengan klien, menyiapkan kebutuhan peserta, mendesain berbagai kebutuhan acara, melakukan dokumentasi, sampai mendadak menjadi MC.

Bahkan aku juga belajar dari cara trainer membawakan materi, dari cara tim saling mengisi ketika ada pekerjaan yang kosong, sampai dari peserta yang tetap semangat meskipun harus berjalan di bawah panasnya Karawang.

Jadi mungkin benar.

Lingkungan memang punya pengaruh besar terhadap bagaimana seseorang bertumbuh.

Dan melihat kembali dua hari ini, mungkin yang paling berharga dari MPP Sazara x TBINA bukan cuma karena acaranya berhasil selesai.

Tapi karena aku pulang membawa lebih banyak pengalaman dibanding saat aku datang.

Capek, iya.

Panas, banget.

Jam tidur berantakan sedikit.

Tapi kalau ditanya mau mengulang pengalaman seperti ini lagi?

Kayaknya…

boleh juga.

Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama

Next

Jalan Baru, Cara Pandang Baru

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Jalan Baru, Cara Pandang Baru
  • Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Kedua
  • Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama
  • Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
  • Matraman, Kemarahan Warga, dan yang Terlambat Hadir

Recent Comments

  1. Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama - Shion on Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
  2. Kallila on Kita Tidak Kekurangan Waktu, Kita Kebanyakan Distraksi
  3. Kallila on Mencoba Membuat AI Agent Sendiri
  4. Zahwa on Mencoba Membuat AI Agent Sendiri
  5. vavai on Kita Tidak Kekurangan Waktu, Kita Kebanyakan Distraksi
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme