Tadi pagi, saat sampai di kantor, nama Matraman muncul di notifikasi media sosialku.
Awalnya hanya video pendek. Orang-orang berlarian, suara teriakan bersahutan, batu dilemparkan, dan sekelompok orang yang dikeroyok oleh warga. Di unggahan lain, warga memenuhi jalan. Ada yang membawa kayu, ada yang hanya berdiri menonton dari kejauhan.
Aku membaca keterangannya satu per satu. Katanya, semua bermula dari persoalan di warung nasi uduk. Masalah yang jika dibaca sekilas terasa begitu kecil, tetapi entah bagaimana berubah menjadi bentrokan besar hingga menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.
Reaksi pertamaku sederhana: hanya karena masalah seperti itu, mengapa sampai sebesar ini?
Namun, semakin banyak cerita yang kubaca, dan menanyakan ke temanku yang tinggal di Matraman, semakin terasa bahwa kejadian itu mungkin tidak benar-benar dimulai pagi itu. Bagi sebagian warga, keributan di gerobak tersebut hanya seperti korek api yang jatuh di atas tumpukan daun kering. Ada cerita tentang kebisingan, balapan, mabuk-mabukan, pemalakan, keresahan yang konon sudah lama dipendam, dan markas yang dibakar.
Aku tidak tahu bagian mana yang sepenuhnya benar. Sebagian datang dari warga sekitar, sebagian dari akun media sosial yang bahkan tidak berada di lokasi. Dalam beberapa unggahan, identitas kelompok disebut dengan sangat yakin. Nama daerah dan suku langsung dibawa-bawa, seolah semua orang dari kelompok itu memiliki sifat yang sama.
Di situlah aku makin penasaran dengan kejadian ini.
Aku bisa memahami mengapa warga marah apabila selama ini mereka benar-benar merasa terancam. Tinggal di lingkungan yang tidak terasa aman pasti melelahkan. Ketika laporan dan teguran dianggap tidak menghasilkan perubahan, orang bisa merasa hanya memiliki satu pilihan: menghadapi masalah itu bersama-sama.
Namun, aku juga tidak bisa menganggap pengeroyokan dan pembakaran sebagai sesuatu yang wajar hanya karena dilakukan oleh orang banyak. Kemarahan yang awalnya muncul untuk mencari rasa aman dapat berubah menjadi sesuatu yang sama menakutkannya. Ketika massa sudah bergerak, sulit membedakan siapa yang benar-benar melakukan pelanggaran, siapa yang hanya berada di sana, dan siapa yang akhirnya menjadi sasaran karena dianggap bagian dari kelompok tertentu.
Kemudian, aku baca ada yang meninggal dunia.
Di media sosial, ia hanya disebut sebagai korban, anggota kelompok, atau bagian dari pihak lawan. Namun, di luar semua label itu, ia tetap seseorang. Ada keluarga yang menunggu kabarnya, ada orang yang mengenalnya, dan ada hidup yang tidak bisa dikembalikan setelah malam itu berakhir.
Di tengah semua itu, aku juga tidak bisa berhenti memikirkan satu hal: bagaimana seandainya keluhan warga didengar sejak awal? Bagaimana seandainya aparat hadir lebih cepat, lebih tegas, dan tidak menunggu sampai keresahan berubah menjadi amarah yang meledak?
Masyarakat seharusnya tidak dibiarkan merasa bahwa mereka harus menjaga lingkungannya sendiri dengan cara apa pun. Aparat tidak seharusnya hanya hadir setelah api menyala, korban berjatuhan, dan jalanan dipenuhi massa. Mereka seharusnya hadir ketika warga mulai mengeluh, ketika ancaman mulai terasa, dan ketika pelanggaran masih bisa dihentikan sebelum berubah menjadi tragedi.
Ironis rasanya apabila warga yang setiap hari hidup, bekerja, dan mencari nafkah di sekitar lokasi justru harus menanggung akibat paling besar, sementara pihak yang seharusnya menjaga keamanan terlihat aman di balik pintu, pagar, dan bangunan yang kokoh.
Sekali lagi, yang dirugikan adalah warga.
Warga yang tinggal di sekitar dan kehilangan rasa aman. Pedagang yang hanya ingin mencari nafkah tetapi tempat usahanya ikut terdampak. Pengendara dan pengunjung yang kebetulan melintas, lalu terjebak di tengah kerusuhan yang tidak mereka pahami. Bahkan warga yang tidak terlibat apa pun tetap harus menanggung ketakutan, kerusakan, dan stigma setelah kejadian itu berlalu.
Membaca kejadian Matraman membuatku sadar bahwa sebuah kekerasan hampir selalu memiliki cerita panjang di belakangnya. Masalahnya mungkin terlihat sepele dari luar, tetapi bagi orang-orang yang menjalaninya, itu bisa menjadi puncak dari ketakutan dan kemarahan yang sudah menumpuk.
Namun, memahami alasan seseorang marah bukan berarti membenarkan semua yang dilakukan ketika marah. Begitu pula mengkritik tindakan warga bukan berarti menutup mata terhadap kegagalan pihak yang seharusnya mencegah keadaan ini sejak awal.
Pada akhirnya, yang paling mudah dari kejadian seperti ini adalah memilih pihak. Menyebut satu kelompok sebagai pembuat masalah dan kelompok lain sebagai pahlawan yang akhirnya melawan. Padahal kenyataannya mungkin jauh lebih rumit. Ada keresahan warga yang perlu didengar, ada tindakan para pelaku yang harus dipertanggungjawabkan, tetapi ada pula tanggung jawab aparat untuk memastikan warga tidak perlu turun tangan sendiri demi merasa aman.
Dari layar ponselku, aku hanya melihat beberapa menit dari sebuah persoalan yang mungkin sudah berlangsung bertahun-tahun. Cukup untuk membuatku bereaksi, tetapi belum tentu cukup untuk membuatku menghakimi.
Namun, satu hal terasa jelas: ketika suara warga terus diabaikan, masalah kecil dapat tumbuh menjadi kemarahan besar. Dan ketika negara terlambat hadir, rakyatlah yang akhirnya saling berhadapan dan rakyatlah yang kembali menjadi pihak yang paling banyak kehilangan.