Jumat malam lalu, aku keluar dari kantor agak lebih larut dari biasanya. Karena memang tidak ada jadwal nge-gym, kepala ini rasanya lebih ringan. Tidak ada target waktu yang buru-buru, jadi aku berniat menikmati perjalanan pulang dengan ritme santai. Kalau biasanya jalur Pantura jadi pilihan utama, kali ini dorongan spontan membawaku untuk langsung menyusuri jalur Kalimalang.
Awalnya perjalanan terasa begitu menyenangkan. Arus lalu lintas tergolong ramai lancar, udara malam masih cukup ramah, sampai akhirnya aku mulai mendekati belokan ke arah kawasan industri MM2100. Dari kejauhan, pemandangan khas jam pulang kerja langsung terpampang: antrean kendaraan mulai padat merayap.
Jujur saja, salah satu hal yang paling kuhindari di jalan adalah harus menyelip di sela-sela bus jemputan dan truk-truk kontainer besar, apalagi di atas jembatan yang kontur jalannya tidak rata dan bergelombang. Daripada harus adu sabar dan membahayakan diri di tengah himpitan kendaraan berat, aku memutuskan untuk terus melaju lurus menyusuri Kalimalang.
Keputusan itu ternyata tepat. Jalanan tetap lancar tanpa hambatan berarti, hingga tanpa terasa aku sudah tiba di perempatan depan Polsek Cikarang.
Namun, kejutan berikutnya menunggu. Di titik ini, jalur utamaku seharusnya belok ke kiri. Tapi malam itu kondisinya macet parah karena ada proyek perbaikan jalan yang memakan badan jalur.

Tepat beberapa meter sebelum perempatan itu, ada sebuah belokan ke kiri ke arah RS EMC Cikarang. Aku ingat betul, dulu jalan itu adalah jalan buntu. Namun beberapa waktu belakangan, jalan itu sudah dibuka dan dibangun terhubung entah tembus ke mana. Setiap kali lewat sana, rasa penasaran selalu muncul di kepala. Tapi pada akhirnya, aku selalu kembali memilih jalan lama. Ada rasa takut tersesat, takut jalannya buntu, atau sekadar enggan keluar dari rute yang sudah terbiasa kulalui setiap hari.
Malam itu, di tengah kemacetan saya memutuskan saya akan lawan.
Rasa penasaran akhirnya menang. Aku langsung banting setir ke kiri, memasuki jalur yang selama ini hanya berani kulirik dari kejauhan.

Begitu masuk, suasana langsung berubah drastis. Jalanan itu sangat sepi, tenang, dan aspalnya mulus. Kekhawatiranku tentang jalur berliku seperti labirin sama sekali tidak terbukti, jalannya hanya satu arah lurus tanpa cabang yang membingungkan. Dan luar biasanya, jalur alternatif ini memotong seluruh titik perbaikan jalan yang macet tadi, lalu dengan mulus mengarahkanku kembali ke jalan utama.
Di sela kelegaan itu, terlintas rasa heran di benakku: kenapa begitu banyak pengendara di belakang sana lebih memilih bertahan dalam kemacetan yang melelahkan, sementara ada jalan alternatif seringan ini yang terbuka lebar?
Tapi momen malam itu bukan cuma soal aspal dan rute jalanan.
Sering kali dalam hidup, kita sudah terlalu nyaman dengan “jalan” yang kita lewati sehari-hari. Kita terjebak dalam rutinitas dan zona nyaman, sampai-sampai kita tidak sadar bahwa di sekitar kita selalu ada jalan baru yang terbuka. Kita takut mencoba hal baru karena pikiran kita dipenuhi oleh berbagai skenario buruk:
Bagaimana kalau jalannya rusak?
Bagaimana kalau jalannya gelap?
Bagaimana kalau tersesat?
Bagaimana kalau gagal?
Kita terlalu sibuk mengkhawatirkan variabel-variabel ketakutan itu, sampai kita lupa menanyakan sisi sebaliknya: bagaimana kalau jalan baru ini justru membantuku keluar dari kemacetan hidup?
Kenyataannya, kita tidak akan pernah tahu hasilnya sebelum kita benar-benar mencobanya sendiri.
Sejak awal memberanikan diri berbelok ke kiri, aku memang tidak mematok ekspektasi tinggi. Kalaupun ternyata salah jalan atau tersesat, ya sudah, jadikan saja pelajaran untuk tidak lewat sana lagi. Tidak ada ruginya. Tapi kalau ternyata berhasil seperti yang kurasakan malam itu, artinya aku menemukan jalan terbaik yang akan terus kupakai di masa depan.
“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba.” Kalimat itu mungkin terdengar sangat klise di telinga banyak orang. Tapi malam itu, dari satu kalimat sederhana itulah keberanianku terpicu dan hasilnya, aku sampai di rumah lebih cepat tanpa perlu terjebak dalam rasa lelah yang sia-sia.