Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Refleksi

Mimpi Kerja vs Realita

By Kallila
January 2, 2026 2 Min Read
0

Pernah nggak sih kamu berandai-andai bekerja di big company sekelas Shopee, Google, atau unicorn lainnya? Pernah bermimpi menjadi bagian dari hiruk-pikuk ibu kota Jakarta? Pasti pernah. Aku pun begitu.

Saat menyusun skripsi, di sela-sela istirahat, aku sering membayangkan betapa asyiknya bekerja di Jakarta. Jauh dari rumah, hidup mandiri, dan merasakan serunya jadi anak kos. Tapi, angan-angan itu seketika lenyap begitu aku dinyatakan lulus. Setiap hari aku mengirim lamaran ke berbagai perusahaan besar di Jakarta, berharap mimpi itu terwujud. Hasilnya? Nihil. Jangankan panggilan wawancara, lamaranku malah berakhir kedaluwarsa (expired) tanpa kabar.

Hari berganti hari, tenggat waktu pembayaran wisuda semakin mencekik. Aku yang berharap bisa membayar biaya wisuda sendiri mulai panik. Rasa desperate pun muncul. Prinsipku berubah jadi: “Lamar aja semuanya yang ada!”. Dari perusahaan raksasa sampai rintisan, semua posisi aku sikat. Ada yang nyangkut? Ada, tapi perusahaan pialang yang nggak sengaja aku lamar (hehe, se-desperate apa pun, aku tetap skip kalau yang ini).

Pelan-pelan, pilar gengsiku runtuh. “Di mana pun nggak apa-apa, asal perusahaannya jelas dan bisa buat makan.”

Satu pelajaran berharga dari masa pengangguranku adalah: Gengsi tidak bisa buat makan. Bahkan saat wawancara kerja dan ditanya “Emang kamu tidak malu kerja di ruko?” oleh Pak Bos, aku menjawab kalimat itu dengan jujur (dan untungnya diterima, haha).

Pikirku, buat apa kerja di big company atau di Jakarta kalau gajinya nggak beda jauh, tapi biaya hidupnya selangit? Toh, sama-sama bekerja. Sudut pandangku mulai terbuka. Pekerjaan itu esensinya sama saja—mau pegawai SPBU, penjaga toko, atau petugas kebersihan. Kita sama-sama berjuang dan mereka tidak gengsi akan hal itu.

Terkadang, kita memang harus menurunkan standar. Bermimpi boleh, nggak ada yang salah ingin kerja di perusahaan bonafide. Tapi kerja keras saja nggak cukup, harus didampingi skill dan pengalaman mumpuni—yang mungkin saat itu aku belum capable di sana.

Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

Pagi yang Tak Biasa

Next

Zona Nyaman

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Jalan Baru, Cara Pandang Baru
  • Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Kedua
  • Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama
  • Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
  • Matraman, Kemarahan Warga, dan yang Terlambat Hadir

Recent Comments

  1. Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama - Shion on Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
  2. Kallila on Kita Tidak Kekurangan Waktu, Kita Kebanyakan Distraksi
  3. Kallila on Mencoba Membuat AI Agent Sendiri
  4. Zahwa on Mencoba Membuat AI Agent Sendiri
  5. vavai on Kita Tidak Kekurangan Waktu, Kita Kebanyakan Distraksi
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme