Beberapa waktu lalu, saat meeting, Pak Boss sempat bertanya kepada tim kami tentang kondisi pekerjaan.
“Bagaimana pekerjaannya? Apakah overload?”
Saat itu aku menjawab dengan cukup spontan.
“Sebenarnya nggak terlalu overload. Tapi untuk switching context masih butuh waktu.”
Jawaban itu keluar begitu saja. Tapi setelah meeting selesai, aku jadi kepikiran lagi.
Selama ini aku sering merasa satu hari kerja cepat sekali habis. Rasanya banyak hal yang belum selesai, padahal kalau dilihat dari jumlah pekerjaannya, sebenarnya masih masuk akal.
Lalu aku mulai sadar, mungkin yang membuat pekerjaan terasa berat bukan hanya jumlah tugasnya. Tapi cara tugas-tugas itu datang dan berpindah di kepala.
Aku jarang benar-benar mengerjakan satu hal sampai selesai.
Lagi membuat dokumen, ada chat yang perlu dibalas.
Baru kembali ke dokumen, ada diskusi yang perlu diikuti.
Selesai diskusi, ingat ada desain yang belum dikerjakan.
Setelah desain selesai, balik lagi ke dokumen dan butuh beberapa menit hanya untuk mengingat, “Tadi terakhir sampai mana, ya?”
Kalau terjadi satu atau dua kali, mungkin tidak terlalu terasa.
Tapi kalau terjadi berkali-kali dalam satu hari, barulah terasa kenapa jam kerja bisa cepat habis sementara pekerjaan terasa belum banyak bergerak.
Dulu aku sering berpikir, kalau pekerjaan belum selesai berarti bebannya terlalu banyak.
Sekarang aku mulai melihat kemungkinan lain. Bisa jadi bukan hanya karena pekerjaannya banyak, tapi karena terlalu sering berpindah konteks.
Setiap jenis pekerjaan punya cara berpikir yang berbeda.
Menulis proposal butuh mode berpikir yang berbeda dengan membuat desain.
Mengatur timeline project berbeda dengan mengikuti meeting.
Membalas chat berbeda dengan menyusun dokumen yang butuh fokus lebih panjang.
Begitu mulai masuk ke satu mode kerja, kadang kita harus berpindah lagi ke mode yang lain. Akhirnya yang memakan energi bukan hanya pekerjaannya, tapi juga proses perpindahannya.
Kalau mendengar kata distraksi, biasanya yang terbayang adalah media sosial seperti TikTok atau Instagram.
Padahal di dunia kerja, distraksi tidak selalu datang dari hal-hal di luar pekerjaan. Sering kali justru datang dari pekerjaan itu sendiri.
Chat yang masuk.
Diskusi mendadak.
Diberikan feedback.
Notifikasi dari berbagai aplikasi.
Semuanya memang bagian dari pekerjaan dan tetap perlu ditangani. Tapi kalau datang terus sepanjang hari, fokus kita ikut terpotong-potong.
Di meeting itu, Pak Boss juga memberi saran yang menurutku membantu.
Kalau satu pekerjaan terasa besar atau sulit dimulai, coba pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Mirip konsep atomic task.
Misalnya, daripada menulis “buat proposal”, tugas itu bisa dipecah menjadi:
Buka template proposal.
Tulis tujuan proyek.
Isi ruang lingkup pekerjaan.
Tambahkan timeline.
Masukkan di Kaizen.
Review dan rapikan kembali.
Kelihatannya sederhana, tapi cara ini membuat pekerjaan terasa lebih mudah dimulai. Otak tidak lagi melihatnya sebagai satu tugas besar yang berat, melainkan beberapa langkah kecil yang lebih jelas.
Beliau juga menyarankan untuk mencoba teknik Pomodoro. Fokus mengerjakan satu hal selama sekitar 25 menit, lalu istirahat sebentar sebelum lanjut lagi.
Aku belum bisa bilang metode ini langsung menyelesaikan semuanya. Tetap ada chat yang perlu dibalas, meeting yang harus diikuti, dan pekerjaan yang memang perlu diprioritaskan saat itu juga.
Tapi setidaknya sekarang aku jadi lebih sadar bahwa setiap kali berpindah konteks, ada “biaya” yang harus dibayar.
Bukan biaya dalam bentuk uang, tapi waktu, energi, dan fokus.
Karena itu, kalau memang tidak mendesak, aku ingin belajar untuk menyelesaikan dulu apa yang sedang ada di depan. Tidak harus sempurna, tapi setidaknya cukup maju sebelum berpindah ke hal lain.
Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa kadang kita merasa tidak punya cukup waktu.
Bukan selalu karena jam dalam sehari kurang.
Tapi karena perhatian kita terlalu sering berpindah sebelum satu pekerjaan benar-benar selesai.
Ananda bisa bayangkan kalau seperti di posisi saya, context switchingnya malah lebih banyak. Padahal saya baru di perusahaan dengan 30-40 team. Gimana kalau perusahaannya sudah bertambah hingga ribuan team 🙂
Haha iya Pak Bos, saya masih harus belajar banyak lagi