Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Proses

Menuju Bulan ke-3 Olahraga

By Kallila
September 8, 2026 3 Min Read
0

Nggak terasa, tahu-tahu aku sudah memasuki bulan ketiga rutin nge-gym. Waktu rasanya berjalan cepat sekali, apalagi kalau mengingat kembali bagaimana awalnya aku setengah mati menyeret langkah untuk mulai mengangkat beban.

Kalau boleh jujur, keputusan untuk mulai nge-gym ini sama sekali bukan dari motivasi yang menggebu-gebu ingin punya body goals. Semuanya murni karena keterpaksaan. Tubuhku seolah sudah membunyikan alarm keras-keras dan memberikan sinyal bahaya. Bayangkan saja, waktu tidur rasanya sudah cukup panjang, tapi bawaannya mengantuk terus. Aku sampai di titik di mana tubuh ini sangat bergantung pada kopi hanya untuk bisa ‘hidup’ dan berfungsi normal seharian. Kepala pusing kalau nggak ngopi dan badan rasanya selalu lelah, berat, dan sering banget merasa tidak enak badan.

Awal mau mendaftar gym, tentu saja ada rasa takut dan canggung. Takut salah alat, takut dihakimi karena angkatannya ringan, dan berbagai overthinking lainnya. Untungnya, kakakku sudah lebih dulu nge-gym, jadi aku memutuskan untuk mengekor saja dan ikut di tempat yang sama.

Lokasi gym-nya ada di daerah Setu. Buat sebagian orang mungkin nanggung, karena posisinya ada di tengah-tengah antara kantor dan rumah (Nggak jauh tapi juga ga deket). Tapi justru jarak ini yang aku jadikan sugesti dan dorongan kuat untuk niat nge-gym. Sepulang dari kantor, sebelum sampai rumah dan terlanjur rebahan, aku harus mampir dulu ke Setu. Anggap saja ini semacam pos transit wajib sebelum benar-benar pulang.

Hari pertama di gym? Jangan ditanya. Beban yang bisa kuangkat masih ringan sekali. Porsiku hari itu lebih banyak dipakai untuk sekadar mencoba-coba alat bak anak kecil yang baru masuk taman bermain. Tapi keesokan harinya, realita menghantam. Welcome to the world of DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness)! Seluruh badan rasanya pegal luar biasa, sampai-sampai bergerak sedikit saja butuh perjuangan.

Tragedi paling epik tentu saja terjadi setelah leg day pertamaku. Saking kagetnya otot-otot ini, aku pernah terbangun di tengah malam buta saat sedang nyenyak tidur hanya karena kaki kram. Jujur, itu sakit banget sampai rasanya mau menangis sambil tertawa meratapi nasib wkwkwk.

Tapi seiring berjalannya waktu, semua rasa pegal dan kram itu terbayar. Ada semacam prinsip kaizen di sini—sebuah proses perbaikan kecil yang terjadi terus-menerus tanpa kita sadari. Dari yang awalnya angkat beban terasa seperti memindahkan gunung, lama-lama otot mulai beradaptasi. Progresnya mulai terlihat, pelan-pelan aku bisa menambah beban angkatan sekitar 5 kg (Seperti lagu kotak: Pelan pelan saja). Rasanya ada kepuasan tersendiri melihat pelat besi yang bertambah di alat gym itu.

Upper di bulan pertama vs bulan kedua

Lucunya, bicara soal progres, ternyata perkembangan otot kakiku sangat luar biasa cepat. Di titik ini aku baru menyadari sebuah fakta tak terbantahkan: memang pada dasarnya core kekuatan perempuan itu ada di kaki. Pantas saja kalau urusan window shopping, perempuan bisa jalan keliling mall sampai 7 kali putaran tanpa merasa capek sedikit pun! Ternyata secara anatomi, kita memang sudah “dilatih” untuk itu.

Lower bulan pertama vs bulan kedua (betis panas buoszz)

Memasuki bulan ketiga ini, tubuhku perlahan membayarnya dengan berbagai benefit yang luar biasa terasa. Hal pertama yang paling aku sadari adalah: aku sudah nggak ketergantungan kopi lagi. Dulu kopi adalah syarat wajib untuk melek dan supaya tidak pusing, sekarang aku minum kopi murni karena memang lagi ingin saja.

Bukan cuma itu, nge-gym ternyata bawa berkah terselubung buat keseharianku. Karena menghabiskan waktu di gym dan baru pulang malam, perjalanan pulang ke rumah jadi jauh lebih santai. Aku sukses terhindar dari jebakan macet jam pulang kerja yang biasanya bikin stres duluan di jalan.

Urusan perut juga jadi lebih damai. Rasanya sekarang bisa makan dengan lebih bebas tanpa terus-terusan dihantui rasa bersalah. Secara keseluruhan, aku merasa jauh lebih berenergi setiap harinya. Kualitas tidurku meningkat drastis; rasanya tidur jadi lebih nyenyak, sukses masuk ke fase deep sleep, dan begitu bangun di pagi hari badan rasanya benar-benar recharge tanpa ada sisa-sisa ngantuk.

Memulai sesuatu yang baru memang selalu menakutkan dan menyakitkan di awal, tapi melihat tubuh yang sekarang jauh lebih sehat dan bugar, rasanya semua perjuangan (dan tragedi kram malam hari itu) benar-benar sepadan!

Post Views: 38
Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

Ketika Makna ‘Ya Sudahlah’ Berubah

Next

Mindfulness di Tengah Asap

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Setahun Setelah “Awal”
  • Sekotak Teh yang Masih Aku Ingat
  • Belajar Promosi Tanpa Malu
  • Mindfulness di Tengah Asap
  • Menuju Bulan ke-3 Olahraga

Recent Comments

  1. Asri on Mindfulness di Tengah Asap
  2. vavai on Seharian Jadi Orang SCBD
  3. Kallila on Seharian Jadi Orang SCBD
  4. Zahro alhasny on Seharian Jadi Orang SCBD
  5. Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama - Shion on Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme