Semua bermula dari ajakan Zahwa. Dia mendaftar workshop tentang AI Agent yang diadakan oleh Sleekflow menggunakan email kantor, lalu mendapat kuota untuk mengajak satu rekan kerja lagi. Tentu saja ajakan itu langsung aku gas. Tapi kalimat lanjutannya bikin tergelitik: “Kalau kamu nggak mau ikut, nanti aku ajak temanku yang lain.” Lah, jadi ceritanya aku ini second choice? wkwkwk bercanda. Akhirnya aku ternyata diajak.
Karena Zahwa mendaftar dengan domain email Excellent, otomatis seharian itu aku harus berperan dan “menyamar” sebagai representatif Excellent.
H-1 sebelum acara, kami mulai menyusun rencana. Zahwa dengan santai mengusulkan berangkat jam dua belas siang. Mendengar itu, instingku langsung bereaksi. “Mepet banget, emang nggak makan siang dulu?” tanyaku.
“Oh iya ya,” jawabnya polos.
Ternyata belum diperhitungkan sama sekali. Jam terbang bolak-balik Jakarta membuat kalkulasi waktuku berjalan otomatis. Berangkat jam dua belas untuk acara jam dua siang di Jakarta itu terlalu berisiko. Masih harus menyisihkan waktu untuk makan siang, shalat Dzuhur, jalan kaki saat transit stasiun, hingga menunggu pesanan GoCar. Bisa-bisa kami sampai di lokasi dengan baju basah kuyup oleh keringat karena lari-larian mengejar waktu. Setelah berdiskusi singkat, akhirnya kami sepakat memajukan jam keberangkatan ke pukul sebelas siang.
Di hari H, kami tetap menuntaskan pekerjaan di kantor sampai jam menunjukkan pukul sebelas pas. Kami langsung meluncur ke stasiun menggunakan sepeda motor agar perjalanan pulang nanti lebih fleksibel dan santai. Gerbong kereta siang itu cukup lengang (sudah kuduga) sehingga kami bisa langsung duduk nyaman tanpa harus berdiri berdesakan.
Di dalam kereta, suasana hening. Nggak lagi marahan kok, melainkan karena aku pribadi selalu merasa kurang nyaman mengobrol di transportasi umum agar tidak mengganggu penumpang lain. Tapi karena jiwa tour guide KW mulai menyala abangku, aku akhirnya membuka percakapan pelan-pelan.
“Mau makan siang apa?” tanyaku.
“Ayam cabe ijo,” sahut Zahwa cepat.
Ini nggak di mana-mana selalu acajo. Yasudahlah wkwk. Karena kami akan turun di Stasiun Sudirman, aku langsung mendalami peran sebagai tour guide. Aku teringat satu tempat makan tersembunyi semacam pujasera kecil yang pernah kukunjungi sebelumnya. Untuk ukuran kawasan elite di sekitar Sudirman, harga makanan di sana luar biasa ramah di kantong.

Sesampainya di sana, suasananya cukup ramai, dan bapak penjual ayamnya masih tetap ramah melayani pelanggan persis seperti kali pertama aku mampir.
Setelah perut terisi, kami memesan GoCar menuju lokasi acara di kawasan SCBD. Dan seperti yang sudah di perkiraan, jalanannya macet banget. Begitu tiba di lobi gedung perkantoran, kami disambut prosedur standar kawasan tersebut: menukar kartu identitas dengan visitor pass. Karena kami tiba jauh lebih awal dari jadwal, kami memutuskan untuk mencari mushola terlebih dahulu.
Rupanya menemukan mushola di gedung megah bukanlah hal yang mudah. Kami bertanya kepada petugas keamanan dan diarahkan untuk menyeberang ke dalam mal yang tersambung dengan gedung perkantoran tersebut. Petunjuk dari petugas cukup spesifik: masuk ke mal, cari area Senopati(?), belok kanan, lalu turun eskalator.
Kami mengikuti instruksi itu dan menemukan sebuah eskalator turun. Namun, begitu menginjakkan kaki di lantai bawah, aroma khas yang sangat menyengat langsung menusuk hidung, semerbak aroma durian. Merasa ada yang tidak beres, kami kembali bertanya kepada staf terdekat dan benar saja, kami salah jalan. Lah iya juga, mana ada tempat shalat dikelilingi aroma durian yang pekat. Apa nggak mabuk. Setelah berjalan cukup jauh memutari lorong mal, akhirnya kami menemukan mushola yang dimaksud dan menunaikan kewajiban sebelum naik ke area co-working space tempat acara berlangsung.
Sesi workshop berdurasi dua jam itu mengupas tuntas implementasi AI Agent yang menjadi produk unggulan Sleekflow. Hal pertama yang langsung menarik perhatianku adalah gaya bicara narasumbernya. Pola komunikasinya sangat khas warga SCBD: setiap kalimat disisipi istilah-istilah bahasa Inggris yang meluncur begitu luwes. Mendengarnya secara langsung terasa lucu aja seperti yang ada di sosial media.

Materi yang dibawakan sebenarnya sangat menarik. Konsep integrasi mereka untuk fungsi customer service otomatis tergolong rapi dan praktis. Menarik melihat bagaimana AI bisa menangani interaksi pelanggan secara mulus. Sebagai orang Excellent, aku tidak boleh membuang kesempatan. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan ilmu soal pemanfaatan AI Agent dan juga bertanya supaya harapannya di notice. Kendati demikian, di sepanjang pemaparan materi, aku malah mikir: konsepnya brilian dan sangat aplikatif, tapi kalau bisa dibangun sendiri, kenapa harus beli?
Meskipun singkat, ruang interaksi di acara itu sangat berharga. Aku berkesempatan bertukar pikiran langsung dengan panitia Sleekflow mengenai produknya. Di sela percakapan, kami saling bertukar kartu nama untuk peluang kolaborasi dan partnership di masa depan. Ada rasa kepuasan tersendiri merasakan dinamika profesional seperti itu.
Keseruan belum berhenti saat acara kelar. Ketika melangkah masuk ke dalam lift untuk turun ke lobi, kami berada satu lift dengan dua orang peserta lain. Dari obrolan basa-basi singkat, terungkap bahwa mereka berasal dari sebuah perusahaan buket bunga yang ternyata sudah tiga tahun menjadi pengguna setia Sleekflow.
Mendengar itu, insting adaptasiku langsung bekerja. Aku membuka “ensiklopedia bahasa SCBD” di dalam kepala untuk melontarkan pertanyaan lanjutan.
“Kak, after sales-nya Sleekflow itu worth it nggak, ya?” tanyaku dengan nada meyakinkan.
Biar apa?
Biar keren hehe
Setelah keluar dari gedung, aku mengajak Zahwa menyeberang ke kawasan Gelora Bung Karno (GBK) untuk rehat sejenak menikmati sore. Tujuan kami adalah sebuah tempat bakso malang legendaris yang berlokasi di area tribun lapangan softball. Duduk santai di tribun sambil menikmati semangkuk bakso hangat dan menyaksikan langit senja Jakarta memberikan nuansa tenang yang kontras dengan hiruk-pikuk SCBD.
Di sana, ramai juga. mungkin memang hiburan orang-orang yang bekerja di kepadatan Jakarta adalah ruang terbuka seperti di GBK ini.

Waktu berlalu begitu cepat hingga jam menunjukkan pukul tujuh malam. Kami akhirnya menyudahi perjalanan dan bersiap pulang menggunakan MRT yang kemudian disambung dengan KRL. Jam pulang kerja membuat gerbong kembali padat, memaksa kami berdiri sepanjang perjalanan.
Melihat lautan manusia yang bergegas dengan langkah cepat, tatapan lelah setelah seharian berkutat di balik meja kerja, area merokok yang penuh dengan orang, dan antrean panjang di setiap sudut transportasi umum, ada satu kesadaran yang muncul: gemerlap SCBD dengan segala gaya hidupnya memang terlihat keren dari luar, tetapi ritme sepadat dan se-hectic itu ternyata benar-benar menguras energi. Di balik setelan rapi dan istilah bahasa Inggris yang terdengar canggih, ada rasa lelah nyata yang harus mereka bayar setiap hari.
Meskipun singkat, agenda hari itu terasa sangat menyenangkan. Sepanjang perjalanan aku sempat khawatir kalau rute wara-wiri jalan kaki yang kupilih membuat Zahwa kelelahan, tapi ternyata staminanya luar biasa tangguh sampai akhir rute. Sebuah hari yang produktif: dapat ilmu baru, relasi baru, perut kenyang, jadi anak SCBD magang, dan bonus rehat senja di tengah ibu kota.
Kerenn, Suyen. Lucu banget gaya ceritanya🤣
WKWKWK ini yang buat nulisnya sampe kantor sepi
Konsep produk mereka bisa dipaparkan saat meeting prodev, Suyen