Sekotak Teh yang Masih Aku Ingat
Saat pulang kerja, entah kenapa perjalanan naik motor sering jadi waktu paling ramai di kepala. Kadang kepikiran kerjaan, kadang kepikiran kejadian random bertahun-tahun lalu, kadang malah dialog sendiri dengan angin.
Enaknya cerita sama angin, karena angin nggak punya KTP, jadi nggak bisa nge-judge.
Dan episode perjalanan pulang kali ini membawa pikiranku mundur ke zaman SMA.
Waktu itu sedang pelajaran Penjas. Kalau tidak salah, hari itu kami dapat praktik beep test. Buat yang belum pernah merasakan penderitaan satu ini, beep test kurang lebih seperti lari bolak-balik dari satu ujung ke ujung lainnya. Kita harus sampai sebelum bunyi “beep” berikutnya terdengar.
Awalnya santai.
Beep. Lari. Balik lagi. Beep.
Masih terasa seperti pemanasan biasa. Masalahnya, semakin tinggi levelnya, jarak waktu antar-beep semakin pendek. Artinya kita harus berlari semakin cepat.
Pelan-pelan, teman-teman satu kelas mulai tumbang. Satu orang berhenti, dua orang berhenti, makin lama makin banyak yang menyerah. Nggak peduli cewek atau cowok, satu per satu mulai minggir dari lintasan sambil berusaha mengatur napas.
Waktu SMA aku ikut basket, jadi kondisi fisikku waktu itu lumayan oke. Mungkin itu juga yang bikin aku masih bertahan ketika peserta lain sudah mulai berkurang.
Sampai akhirnya tinggal dua orang.
Aku dan satu teman cowok.
Aku sudah lupa persisnya kami berada di level berapa. Yang aku ingat, sudah level belasan. Dan di titik itu, sebenarnya tubuh sudah mulai mengirimkan banyak sekali permintaan untuk berhenti.
Napas sudah nggak beraturan, dada rasanya bekerja terlalu keras, kaki mulai berat. Di kepala cuma ada satu pikiran:
“Enak banget kayaknya kalau sekarang tiduran.”
Tapi entah kenapa aku tetap lari.
Bukan karena merasa harus menang dari temanku. Bukan juga karena ada hadiah besar yang menunggu. Aku cuma nggak mau berhenti begitu saja.
Aku penasaran.
Aku ingin tahu, kalau benar-benar dipaksakan, batas tubuhku ada di mana.
Jadi setiap kali bunyi beep terdengar, aku tetap memaksa kaki bergerak. Satu putaran lagi. Satu putaran lagi. Sampai akhirnya datang satu beep yang tidak berhasil aku kejar.
Aku terlambat sampai.
Selesai.
Aneh rasanya. Di satu sisi lega karena penderitaan itu akhirnya berakhir. Tapi di sisi lain ada sedikit rasa, “Oh, ternyata segini batasnya.”
Temanku masih bertahan beberapa level setelah aku. Mungkin dua atau tiga level lagi sebelum akhirnya dia juga tidak berhasil mengejar beep berikutnya.
Kami lalu duduk istirahat. Kalau biasanya selesai olahraga orang bisa ketawa-ketawa atau ngobrol, saat itu aku bahkan masih sibuk mencari oksigen.
Guru Penjasku kemudian bilang kurang lebih begini,
“Kalau orang benar-benar usaha sampai limit, mau senyum aja susah.”
Aku yang lagi duduk cuma bisa membenarkan dalam hati.
Iya juga.
Mau senyum saja rasanya berat. Ujung bibir kayaknya berat banget buat naik. Semua sumber daya tubuh sepertinya sedang dialihkan ke paru-paru.
Setelah itu, karena aku dan temanku jadi dua orang yang bertahan paling akhir, guru memberikan kami reward.
Sekotak teh.
Iya. Teh kotak.
Bayangkan. Lari sampai rasanya jiwa mau keluar dari badan, napas tinggal separuh, kaki hampir mau resign…
hadiahnya teh kotak.
Kalau dipikir sekarang memang receh banget.
Tapi waktu itu aku senang. Senang banget, malah.
Dan setelah dipikir-pikir sekarang, mungkin sebenarnya bukan teh kotaknya yang bikin aku senang. Bukan juga karena nilainya mahal atau karena aku memang sedang pengin minum teh.
Aku senang karena ada perasaan bahwa usaha yang tadi aku keluarkan dihargai.
Ada seseorang yang melihat bahwa aku benar-benar berusaha. Bahwa aku terus lari ketika badanku sebenarnya sudah minta berhenti. Bahwa aku bertahan sedikit lebih lama bukan karena disuruh, tapi karena memang ingin mencoba sampai batas yang aku bisa.
Dan ternyata perasaan bahwa usaha kita dilihat itu menyenangkan sekali.
Kadang memang nggak perlu hadiah besar. Sesuatu yang sederhana pun bisa terasa sangat berarti kalau datang setelah kita merasa sudah memberikan banyak tenaga untuk sesuatu.
Sekotak teh itu mungkin secara harga nggak seberapa. Tapi waktu itu rasanya seperti sebuah tanda kecil yang bilang, “Tadi usahamu kelihatan.”
Apalagi aku mendapat sesuatu yang nggak semua orang di kelas dapat hari itu. Jadi sekotak teh itu terasa spesial, bukan karena tehnya, tapi karena cerita di baliknya.
Lucunya, bertahun-tahun kemudian aku justru masih ingat kejadian itu. Bahkan aku sudah lupa rasa teh yang diminum waktu itu.
Yang masih aku ingat justru perasaan ketika memaksa diri untuk terus berlari padahal tubuh sudah ingin berhenti. Dan perasaan ketika akhirnya ada sesuatu, sekecil apa pun, yang membuat perjuangan tadi terasa diakui.
Mungkin karena tanpa sadar, kejadian kecil seperti itu mengajarkan beberapa hal.
Salah satunya, kita memang nggak selalu tahu batas kemampuan kita sebelum mencoba mendekatinya. Dan batas itu belum tentu soal menjadi yang terbaik dibanding orang lain.
Kadang batas itu cuma tentang bertanya ke diri sendiri:
“Kalau aku belum menyerah sekarang, sebenarnya aku masih bisa sampai mana?”
Tapi selain itu, aku juga jadi sadar bahwa apresiasi kecil ternyata bisa tinggal lama sekali dalam ingatan seseorang.
Sekarang mungkin bentuknya bukan lagi sekotak teh. Bisa jadi ucapan terima kasih, “good job”, atau sekadar seseorang yang sadar bahwa apa yang kita kerjakan ternyata nggak semudah kelihatannya.
Karena di kehidupan sehari-hari, nggak semua usaha punya penonton. Ada banyak hal yang kita kerjakan tanpa ada yang tahu seberapa capek prosesnya. Ada pekerjaan yang selesai dan langsung berganti ke pekerjaan berikutnya. Ada hari-hari ketika kita tetap jalan meskipun sebenarnya sudah lelah.
Jadi mungkin ketika ada seseorang yang berhenti sebentar dan mengakui usaha itu, rasanya memang bisa jauh lebih besar daripada bentuk hadiahnya sendiri.
Tentu saja sekarang aku juga sadar, hidup nggak harus selalu dijalani seperti beep test. Nggak semua hal harus dipaksakan sampai napas habis. Ada waktunya bertahan, ada waktunya berhenti, dan ada waktunya sadar kalau tubuh dan pikiran memang butuh istirahat.
Tapi kenangan beep test itu selalu lucu untuk diingat. Bahwa pernah ada versi diriku yang terus berlari hanya karena penasaran dengan batasnya sendiri.
Dan setelah hampir kehabisan napas, ia pulang membawa sebuah pencapaian sederhana: sekotak teh.
Tehnya mungkin sudah habis 6 tahun lalu.
Tapi perasaan bahwa usahaku waktu itu dihargai, ternyata masih kebawa sampai sekarang.