Awalnya Cuma Lihat Pelat Nomor, Ternyata Ceritanya Panjang
Sore itu, pas lagi tertahan di tengah kemacetan, mata aku mendadak tertuju pada pelat nomor motor di depan. Sebuah pelat AA biasa.
Tapi entah kenapa, sore itu pikiran aku malah melantur ke mana-mana. Aku mulai mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap biasa: kenapa pakai kode AA? Kenapa Jakarta harus B? Kenapa Surabaya L?
Kalau dipikir-pikir, urutan alfabetnya terasa acak. Sistem ini enggak berbasis abjad nama kotanya, juga enggak terlihat seperti singkatan yang mudah ditebak. Karena penasaran, sepulang ke rumah aku coba mencari tahu sejarahnya. Ternyata jawabannya membawa aku ke sejarah yang jauh lebih lama.
Sebelum Indonesia punya pelat nomor, urusan identitas kendaraan ternyata sudah dimulai di Eropa. Salah satu catatan awal muncul di Paris tahun 1893, ketika kendaraan mulai ramai di jalanan dan pemerintah perlu cara untuk mengenali tiap kendaraan.
Lalu di Amerika awal 1900-an, situasinya bahkan lebih unik. Pemerintah sudah mewajibkan registrasi kendaraan, tetapi belum menyediakan pelat resmi. Akhirnya para pemilik kendaraan membuat pelat mereka sendiri dari kayu, logam, kulit, bahkan kain.
Nah, Indonesia punya cerita yang agak berbeda.
Selama ini ada kisah yang cukup terkenal bahwa kode pelat seperti B, L, H, atau AB berasal dari masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles saat Inggris menguasai Jawa. Cerita itu menyebut tiap wilayah mendapat kode berdasarkan pembagian batalyon militer Inggris.
Tapi ternyata setelah dicari lebih jauh, cerita itu kemungkinan bukan asal-usul langsung pelat kendaraan seperti yang sering dibayangkan.
Karena satu hal sederhana: saat Inggris berkuasa pada awal 1800-an, mobil bahkan belum digunakan. Sistem pelat kendaraan sendiri baru berkembang jauh setelahnya, sekitar awal abad ke-20 saat jumlah kendaraan di Hindia Belanda mulai meningkat.
Yang diduga terjadi adalah pemerintah kolonial kemudian membangun sistem administrasi kendaraan berdasarkan pembagian wilayah yang sudah ada sebelumnya. Kode seperti B, L, H, AA, atau AB kemungkinan dipertahankan karena sudah dikenal dan memudahkan pembagian area registrasi.
Jadi mungkin jawabannya bukan “pelat nomor berasal dari perang”, melainkan sistem administrasi modern yang tumbuh di atas pembagian wilayah lama.
Dan di situ aku baru sadar, mungkin selama ini aku salah melihat pelat nomor.
Aku kira huruf-huruf seperti B, L, H, atau AA cuma kode administrasi yang dibuat asal untuk membedakan daerah. Sesuatu yang kita lihat tiap hari tanpa pernah benar-benar dipikirkan.
Padahal di balik kombinasi huruf yang kelihatannya sederhana itu, ada perjalanan yang panjang: dari perkembangan kendaraan di Eropa, sistem registrasi di masa kolonial, sampai cara sebuah negara mengatur jutaan kendaraan hari ini.
Lucunya, semua rasa penasaran itu muncul cuma gara-gara pelat AA di depan motor saat macet.
Jadi kalau nanti aku terjebak macet lagi dan tanpa sengaja menatap pelat nomor kendaraan di depan, mungkin aku enggak akan cuma melihat huruf dan angka lagi. Karena ternyata, benda kecil yang menempel di kendaraan itu diam-diam membawa cerita yang usianya jauh lebih tua daripada yang pernah aku bayangkan.