Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Harian

Hari Sial Tidak Ada di Kalender

By Kallila
June 4, 2026 5 Min Read
0

Dari judulnya mungkin sudah mencerminkan cerita ini, tapi bisa jadi kesialan yang terjadi kemarin sebenarnya dikarenakan kebodohan diri sendiri.

Jadi, kemarin aku habis Work From Anywhere (WFA) di kabin. Aku pulang dari kabin sekitar jam 16.30 dan baru sampai rumah jam 18.30. Hari yang sangat macet. Arah pulang memang melelahkan karena harus melewati daerah vital di Cikarang Utara, tepatnya di sekitar SGC (Sentra Grosir Cikarang), yang kemacetannya bahkan sudah mengular jauh sebelum titik tersebut.

Karena badan terasa pegal dan lelah dengan kehectican jalanan, aku memutuskan membeli martabak sebagai pelepas stres. Semuanya terasa normal-normal saja, sampai momen saat aku sudah bersiap untuk Netflix and chill ditemani martabak hangat. Aku menyalakan laptop seperti biasa, namun saat ingin mencolokkan pengisi daya, ada yang aneh. Kok… casannya nggak bisa masuk?

Sudah dicoba berkali-kali, tetap saja gagal. Pas aku periksa port Type-C di laptop, nggak ada masalah. Tapi saat melihat ke ujung kabel casannya, walah, kacau! Ada sesuatu yang menyangkut di dalam lubang kabel, semacam plastik keras bening yang ukurannya pas sekali dengan lubang tersebut. Bendanya keras dan nggak bisa diambil begitu saja.

Akhirnya aku berinisiatif menggunakan pinset untuk mengeluarkannya. Berhasil keluar, sih. Tapi pas dicolokkan kembali, kok… tetap nggak ngecas?!

Seketika aku panik untuk kedua kalinya. Aku coba colok ke port Type-C lain, nggak bisa. Dicoba ke HP pun, tetap nggak ada respons. Wallahi, tamatlah sudah. Dalam kondisi panik, aku langsung mencari tempat service terdekat lewat maps. Namun karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 8 malam, mayoritas tempat service sudah tutup. Kepanikan semakin menjadi karena besok aku harus tetap bekerja dan sangat membutuhkan laptop, sementara baterainya terkenal boros—dari yang tadinya 43% saat awal dinyalakan, sudah merosot ke 34%.

Sebagai langkah antisipasi kalau besok terpaksa harus izin kerja, aku mencoba menghubungi Mbak Zahro dan Pak Afandi, sembari terus mencari tempat service lain yang masih buka. Sampai akhirnya, aku menemukan satu tempat yang… agak lain.

Tempat service ini lokasinya ada di sebuah kontrakan. Aku mencoba mengirim pesan ke nomor yang tertera. “Datang saja, pemeriksaan gratis,” balasnya. Pas aku lihat di Maps, jaraknya memang dekat, tapi lokasinya agak terpencil masuk ke dalam gang kecil yang sepi. Begitu sampai di titik lokasi, ada pesan masuk lagi, “Masuk saja ke gerbang hitam, nggak dikunci.”

Di balik gerbang hitam itu, berdirilah bangunan kontrakan seperti pada umumnya kontrakan di Cikarang. Jujur, saat itu aku agak skeptis. Bagaimanapun, aku seorang perempuan, sendirian malam-malam datang ke sebuah kontrakan di tempat asing yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Siapa juga yang menyangka ada tempat service di dalam kontrakan? Namun, karena butuh, langkah kaki tetap kulanjutkan.

Begitu bertemu, tempatnya ternyata kecil dengan pintu yang terbuka lebar. Melihat situasi itu, kewaspadaanku agak berkurang. Ditambah lagi, mas-mas yang menyambut sepertinya memang beneran ahli di bidangnya. Singkat cerita, selama kami mengobrol dan memeriksa kabel, ternyata bagian dalam casanku sudah banyak yang rontok. Aku langsung menyesal setengah mati karena sudah lancang mengopreknya sendiri dengan pinset. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga usaha—begitu kata masnya mencoba menenangkan.

Dia kemudian menyarankan untuk membeli casan baru, yang kebetulan stoknya sedang ada di tempatnya. Ternyata, mas-mas ini adalah owner-nya sendiri. Wow.

Ketika aku menanyakan apakah barangnya original atau tidak, masnya langsung memberikan Pembelajaran #1: Tidak ada casan original yang dijual bebas secara luas. Dia menjelaskan bahwa casan yang banyak beredar di online marketplace biasanya adalah barang KW. Di atas itu, ada Grade A yang sedang dia jual saat ini. Menurutnya, casan Grade A seperti ini kalau dijual online malah sering nggak laku, karena kebanyakan orang hanya mencari harga murah tanpa memedulikan kualitas, terlebih di online suka ada kecurangan. Masnya juga bercerita bahwa dia pernah tertipu mendapat stok KW, dan langsung dia reject karena ingin menjaga keamanan perangkat para pelanggannya.

Karena posisi sudah terpojok, aku akhirnya memutuskan untuk membeli casan baru tersebut. Sembari menunggu barangnya diambilkan, kami mengobrol banyak hal. Lucunya, ternyata dia adalah alumni Esa Unggul juga wkwk Dia mengambil jurusan Psikologi dan lulus tepat saat aku baru masuk kuliah. Siapa yang menyangka kalau kami sesama alumni dari kampus “berisi soang” itu.

Masnya juga membagikan Pembelajaran #2: Jika laptop terkena air, jangan langsung dinyalakan. Keringkan dulu, bongkar, lalu bersihkan komponennya menggunakan hairdryer. Kalau tidak percaya diri untuk membongkar sendiri, bawa ke tempat service dan minta tolong dikeringkan saja. Begitu SOPnya. Sebab jika langsung dinyalakan dalam kondisi basah, risikonya bisa terjadi korsleting yang membuat biaya perbaikan membengkak menjadi mahal, padahal ongkos mengeringkan komponen sebenarnya cuma sekitar 100 ribu rupiah.

Lanjut ke Pembelajaran #3, yang ini langsung masuk ke sesi praktik membandingkan antara casan Grade A dan casan KW. Masnya membawakan contoh casan KW sebagai perbandingan. Saat aku pegang, perbedaannya memang terasa jauh, mulai dari kualitas bodi, tingkat ke-compact-an, hingga detail logonya. Rasanya malam itu aku seperti sedang mengikuti mata kuliah 3 SKS.

Setelah obrolan panjang tersebut, akhirnya kami sampai ke tahap transaksi (untung ada Emergency Fund). Secara keseluruhan masnya sangat baik. Meskipun belum tentu semua perkataannya 100% benar, tapi dia memberikan kesan yang sopan, tidak aneh-aneh, dan obrolan kami mengalir santai seperti biasa.

Di perjalanan pulang, aku hanya bisa meratapi perbuatan sendiri. Begitu sampai rumah jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan aku sudah sama sekali nggak mood untuk menyantap martabak wkwk. Akhirnya aku memilih makan malam seadanya, menyelesaikan target harian Duolingo, serta mengirim laporan harian kantor yang sebelumnya sempat tertunda. Setelah semua selesai, aku langsung tertidur lelap karena tenaga sudah terkuras habis.

Besoknya, yaitu hari ini. Aku bangun dengan badan yang masih terasa lelah, mungkin efek dari memproses kejadian tidak terduga semalam. Aku berangkat kerja seperti biasa, dengan membawa bekal martabak sisa semalam.

Saat membeli kopi di dekat kantor, kesialan berikutnya datang menghampiri. Tepat setelah dibayar, kopi tersebut jatuh dari motor saat aku mencoba menggantungnya. Karena sudah di tahap pasrah dan menerima keadaan, aku cuma berbalik, lalu membeli kopi yang baru lagi.

Sampai kantor, aku cuma bisa menertawakan keadaan. Mungkin kalau diilustrasikan mungkin seperti ini perasaanku sekarang.

Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

Awalnya Cuma Lihat Pelat Nomor, Ternyata Ceritanya Panjang

Next

Ketika AI Mempercepat Kerja, tapi Menghabiskan Waktu

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Ketika AI Mempercepat Kerja, tapi Menghabiskan Waktu
  • Hari Sial Tidak Ada di Kalender
  • Awalnya Cuma Lihat Pelat Nomor, Ternyata Ceritanya Panjang
  • Belajar Menavigasi Keuangan di Tengah Dinamika Ekonomi
  • Super Power di Era AI

Recent Comments

  1. Super Power di Era AI - Shion on AI untuk Kehidupan Sehari-hari
  2. AI untuk Kehidupan Sehari-hari - Shion on Manusia Tanpa Ambisi: Catatan Seorang ‘Jack of All Trades’
  3. AI untuk Kehidupan Sehari-hari - Shion on Tentang AI dan Aplikasi yang Beneran punya Solusi
  4. Epilog Magelang: Tentang Hal-hal yang Menetap Setelah Perjalanan Usai - Shion on Pelatihan BSM PTS A48: Kala Petani Kode Bertemu Kohe
  5. Kallila on Pelatihan BSM PTS A48: Kala Petani Kode Bertemu Kohe
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme