Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Refleksi

Ketika Makna ‘Ya Sudahlah’ Berubah

By Kallila
September 1, 2026 2 Min Read
0

Waktu masih kecil dulu, lagu Ya Sudahlah milik Bondan Prakoso & Fade2Black rasanya cuma salah satu lagu hits yang seru banget buat didengar. Tiap kali nonton di TV dan video klipnya lewat, bawaannya pengin ikut nyanyi bareng. Ketukan ritmenya enak, musiknya santai, dan bagian reff-nya gampang banget nempel di kepala.

Dulu, lirik “ya sudahlah” itu terdengar enteng banget. Nggak ada beban, nggak ada drama. Bagi anak kecil yang isi kepalanya cuma mikirin PR sama main sore bareng teman, kalimat itu ya cuma penutup lirik yang asyik diikutin sambil manggut-manggut.

Sampai akhirnya, beberapa waktu lalu lagu ini nggak sengaja keputar lagi di playlist.

Musiknya masih sama persis seperti belasan tahun lalu. Tapi anehnya, ada satu baris lirik yang kali ini bunyinya beda banget di telinga:

“Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai… ya sudahlah.”

Pas dengar bagian itu, pikiran langsung relate sama apa yang sering dihadapi pas udah gede begini.

Waktu masih kecil, kita sering mikir kalau sudah gede nanti semuanya bakal serba bisa diatur. Kita bebas pasang target setinggi langit, bikin rencana karier yang rapi, dan yakin kalau kita lari sekencang mungkin, semua angan-angan pasti bakal sampai di garis finish.

Tapi realita dunia kerja dan kehidupan nyata ternyata punya plot twist-nya sendiri.

Ada momen-momen di mana kita sudah curahin semua tenaga, begadang buat nyusun rencana, dan lari sekuat mungkin buat ngejar target. Tapi pas dijalanin, jalannya malah berbelok ke arah yang sama sekali nggak diduga. Rencana yang udah disusun rapi bisa ambyar, ekspektasi meleset, dan kita dipaksa buat nata ulang semuanya dari awal.

Dari pengalaman-pengalaman itulah, aku baru paham maksud dari kata “ya sudahlah”.

Dulu aku kira kalimat itu ungkapan pasrah orang yang menyerah kalah. Tapi pas udah ngerasain sendiri rasanya dikejar realita, kalimat itu ternyata bentuk penerimaan yang paling lapang—seni buat bersikap legowo.

Bilang ya sudahlah itu bukan berarti kita berhenti berjuang atau nyepelein usaha yang udah dikeluarin. Kalimat itu lebih kayak jeda buat narik napas panjang. Cara kita ngakuin kalau di dunia ini nggak semua hal bisa kita kontrol, dan berdamai sama kenyataan bahwa jalannya memang nggak selalu sesuai dengan angan-angan awal.

Lucu aja pas sadar gimana waktu bisa ngubah cara pandang kita ke hal sesederhana lagu masa kecil. Lagu yang dulu cuma jadi tontonan santai di TV, sekarang malah jadi pengingat paling jujur: kalau semua usaha terbaik udah kita keluarin tapi jalannya belum sampai ke sana, langkah terbaik berikutnya adalah berdamai, lepasin bebannya, terus bilang ke diri sendiri—ya sudahlah, mari lanjut jalan lagi.

Post Views: 35
Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

Siklus Payday

Next

Menuju Bulan ke-3 Olahraga

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Setahun Setelah “Awal”
  • Sekotak Teh yang Masih Aku Ingat
  • Belajar Promosi Tanpa Malu
  • Mindfulness di Tengah Asap
  • Menuju Bulan ke-3 Olahraga

Recent Comments

  1. Asri on Mindfulness di Tengah Asap
  2. vavai on Seharian Jadi Orang SCBD
  3. Kallila on Seharian Jadi Orang SCBD
  4. Zahro alhasny on Seharian Jadi Orang SCBD
  5. Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama - Shion on Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme