Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Belajar

Super Power di Era AI

By Kallila
May 19, 2026 3 Min Read
0

Di tulisan sebelumnya, aku sempat bahas bagaimana AI bisa membantu urusan domestik sampai pekerjaan harian kita jadi lebih efisien. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ada satu masalah besar yang muncul sejak teknologi dan AI makin pintar: kemampuan fokus kita justru makin menurun.

Baca tulisan sebelumnya: AI untuk Kehidupan Sehari-hari

Di course Angela Yu, ada satu analogi tamparan keras yang menarik banget. Di dunia akademis sekarang, banyak dosen yang cerita kalau mahasiswa zaman sekarang punya attention span yang pendek banget. Bahkan ada fenomena di mana orang butuh izin keluar ruangan bukan karena ke toilet, tapi karena butuh “phone break”, mirip kayak orang yang punya kecanduan nikotin yang butuh smoking break. Sadar atau nggak, “software” atensi di otak kita ini pelan-pelan mulai rusak karena keseringan disuapi video pendek yang algoritmanya pintar banget memanipulasi dopamin.

Padahal, di masa depan, kemampuan untuk duduk diam dan fokus mendalam (deep work) selama 1–2 jam tanpa terdistraksi bakal jadi sebuah superpower. Saat semua orang bisa menghasilkan produk dengan cepat pakai AI, pemenangnya adalah manusia yang punya otot mental untuk berpikir jernih tanpa gampang teralihkan.

Aku sendiri masih sering kesulitan menjaga fokus, tapi ada beberapa latihan mental yang belakangan ini coba aku praktikkan pelan-pelan:

1. Menjaga 10 Menit Pertama Setelah Bangun Tidur

Aku pernah nonton video dari Jack Ma tentang pentingnya menjaga 10 menit pertama setelah kita bangun tidur. Intinya: jangan langsung menyentuh HP dan melakukan aktivitas lain. Dan belakangan ini, hal itu yang coba aku terapkan.

Pas bangun tidur, alih-alih langsung buka medsos, aku biasanya cuma bengong sebentar di kasur. Di momen bengong itu, kadang aku mikir santai tentang apa aja yang udah aku lakuin kemarin, atau hari ini kira-kira harus ngapain aja. Ya, jujur kadang ada rasa kepingin tidur lagi sih, wkwk. Tapi sering juga aku nggak mikirin apa-apa, bener-bener cuma bengong kosong aja.

Aku baru siap-siap pegang HP kalau emang ragaga dan pikiranku udah benar-benar siap. Bahkan untuk urusan baca chat, aku sengaja tahan dulu dan baru aku buka pas udah sampai di kantor. Strategi ini sangat menyelamatkan otak, karena kalau langsung dihadapkan sama informasi yang melimpah tepat saat bangun tidur, rasanya energi harian langsung terkuras habis sebelum hari benar-benar dimulai.

2. Memanfaatkan Streak Effect

Poin kedua yang menurutku sangat realistis adalah memanfaatkan psikologi “sayang kalau putus”. Kita nggak perlu langsung bikin perubahan masif yang berat, cukup jaga konsistensi dari hal-hal kecil yang sudah berjalan.

Contoh nyatanya di aku sekarang adalah belajar bahasa Inggris di Duolingo. Setiap hari, fokus utamaku adalah menyelesaikan misi dan berusaha keras buat menjaga streak biar nggak pecah. Begitu melihat barisan hari yang terus berjalan, ada rasa sayang kalau harus berhenti dan mengulang dari nol lagi.

Selain belajar bahasa, aku juga menerapkan efek konsistensi ini untuk pos keuangan, salah satunya lewat streak investasi bulanan di Bibit dan catat keuangan di AkFina. Nggak perlu nunggu momentum besar, yang penting rutin dan disiplin disisihkan setiap bulan. Begitu kebiasaan rutin ini sudah terbentuk, prosesnya jadi otomatis berjalan tanpa perlu banyak menguras energi lagi untuk memotivasi diri.

3. Mulai Membaca Buku untuk Melatih Atensi

Selain menjaga rutinitas harian, belakangan ini aku juga mulai membiasakan diri buat membaca buku lagi. Biasanya aku pilih buku-buku motivasi atau novel misteri.

Kenapa buku? Karena membaca itu beda banget rasanya sama scrolling konten di medsos yang serba instan dan cepat ganti topik. Membaca memaksa otak aku buat fokus lebih lama pada satu alur. Kalau lagi baca novel misteri, rasa penasaran sama kelanjutan ceritanya bikin aku betah buat duduk diam dan menyimak. Sementara kalau buku motivasi, pelan-pelan aku diajak buat mencerna poin-poin pentingnya tanpa terburu-buru. Ini jadi alternatif yang lumayan asyik buat melatih otot fokusku biar nggak gampang teralihkan.

Pada akhirnya, melatih fokus atau memperbaiki diri itu nggak harus ekstrem sampai mengisolasi diri dari teknologi. Cukup mulai dari hal-hal kecil yang emang cocok sama ritme hidup kita sendiri. Yang penting adalah konsistensi untuk terus berjalan, karena sekecil apa pun rutinitasnya, itu jauh lebih baik daripada nggak dimulai sama sekali.

Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

AI untuk Kehidupan Sehari-hari

Next

Belajar Menavigasi Keuangan di Tengah Dinamika Ekonomi

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Ketika AI Mempercepat Kerja, tapi Menghabiskan Waktu
  • Hari Sial Tidak Ada di Kalender
  • Awalnya Cuma Lihat Pelat Nomor, Ternyata Ceritanya Panjang
  • Belajar Menavigasi Keuangan di Tengah Dinamika Ekonomi
  • Super Power di Era AI

Recent Comments

  1. Super Power di Era AI - Shion on AI untuk Kehidupan Sehari-hari
  2. AI untuk Kehidupan Sehari-hari - Shion on Manusia Tanpa Ambisi: Catatan Seorang ‘Jack of All Trades’
  3. AI untuk Kehidupan Sehari-hari - Shion on Tentang AI dan Aplikasi yang Beneran punya Solusi
  4. Epilog Magelang: Tentang Hal-hal yang Menetap Setelah Perjalanan Usai - Shion on Pelatihan BSM PTS A48: Kala Petani Kode Bertemu Kohe
  5. Kallila on Pelatihan BSM PTS A48: Kala Petani Kode Bertemu Kohe
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme