AI untuk Kehidupan Sehari-hari
Dulu, waktu Artificial Intelligence (AI) mulai ramai, aku termasuk orang yang pertama kali pasang tembok skeptis. Sebagai orang IT, ada rasa nggak nyaman melihat munculnya tren vibe coder—saat orang-orang bisa bikin program cuma bermodal instruksi teks tanpa perlu kuliah 4 tahun seperti yang kulakukan. Rasanya seperti keahlian yang kupelajari bertahun-tahun jadi “murah” karena digantikan mesin. Ego ku kesentil dikit.
Baca juga: Tentang AI dan Aplikasi yang Beneran punya Solusi
Tapi seiring berjalannya waktu, baik di bangku kuliah maupun di kantor, aku mulai sering pakai AI. Dan pelan-pelan, penyangkalanku luntur. Aku sadar, kalau aku terus menolak, aku akan berakhir seperti saat aplikasi Gojek diperkenalkan, tukang ojek pangkalan yang bersikukuh menolak perubahan adanya ojek online. Perubahan itu pasti terjadi, mau aku terima atau nggak. Daripada tertinggal jauh, lebih baik aku belajar cara mengendarainya.
Baru-baru ini aku menyelesaikan course “Age of AI” dari Angela Yu. Menariknya, materi ini mengarah ke bagaimana AI bisa membantu kita dalam pekerjaan sehari-hari, bahkan ke kehidupan sehari-hari. Dan persepsinya diubah dari yang AI untuk menggantikan pekerjaan manusia, menjadi AI untuk membantu pekerjaan jadi lebih efisien.
Dari yang aku pelajari, AI itu sebenarnya asisten yang sangat berguna kalau kita tahu cara pakainya. Berikut beberapa tips praktis yang mulai aku terapkan setiap hari:
1. Manfaatkan AI sebagai “Handyman” dan Koki di Rumah
Nggak perlu selalu panggil ahli atau pesan makanan kalau lagi buntu. Dengan AI, kita bisa minta bantuan AI untuk menentukan makan kita dengan bahan yang ada di kulkas. Cukup sebutkan apa yang ada di kulkas atau bisa juga di foto, lalu minta AI buatkan resep simpel yang selesai dalam 20 menit. Ini cara paling gampang buat hemat energi setelah pulang kerja.

Bisa juga ketika ada hal yang rusak dan kita tidak mengerti caranya. Bisa pakai Voice Mode di AI sebagai asisten hands-free. Waktu ada alat rumah yang bunyi aneh atau rusak, minta AI bimbing kamu langkah demi langkah untuk cari tahu masalahnya.
3. AI sebagai “Profesional” di Berbagai Bidang
Salah satu hal yang paling menarik dari course Angela Yu adalah bagaimana kita bisa memposisikan AI sebagai tenaga ahli di bidang yang kita butuhkan, tanpa biaya mahal. Dan ini sudah mulai aku terapkan dalam mendukung pekerjaan maupun di kehidupan sehari-hari.
Saat aku merasakan perasaan seperti burn out atau perasaan tidak biasanya muncul, aku sering pakai AI sebagai “terapis pendukung”.

Kita berikan AI untuk mengulik apa yang kita alami dari pertanyaan-pertanyaan yang dia berikan. AI bisa bantu kita refleksi diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang tenang dan objektif. Dengan AI, beban psikologis di dalam diri bisa berkurang dan bisa mendapatkan diagnosanya tanpa perlu pergi ke profesional (meskipun belum tentu diagnosanya tepat)
3. Jadilah “Jack of All Trades” (Generalis Unggul)
Di tulisan ku sebelumnya, aku sedikit minder karena menjadigeneralis. Tapi di era AI, menjadi spesialis di satu bidang saja mulai punya risiko. AI justru mendukung kita untuk jadi generalis yang bisa menghubungkan banyak hal.

- Crossover Skills: Jangan takut belajar hal yang nggak nyambung dengan pekerjaan utama. Keterampilan komunikasi atau empati yang digabung dengan bantuan teknis AI bisa jadi nilai unik yang nggak dimiliki orang lain.
- Prinsip “Just Move”: Kalau bingung mau ambil keputusan karier atau proyek baru, bergerak saja dulu. Lakukan satu hal kecil. Gerakan itu bakal kasih kamu informasi dan data baru, sedangkan cuma diam memikirkan risiko nggak akan membuahkan apa-apa.
4. Seni “Prompting”
Kualitas jawaban AI itu sangat bergantung pada cara kita bertanya. Awalnya aku prompting asal-asalan, AI nya pun kesannya ngaco sampai aku marah-marah ke dia. Tapi ternyata prompting pun ada seninya. Agar hasilnya nggak “halu” atau terlalu umum, aku mulai mengimplementasikan rumus RACE (Role, Action, Context, Expectation) untuk prompting AI.

- Role (Peran): Tentukan AI harus jadi siapa. Misal: “Bertindaklah sebagai terapis profesional” atau “Jadilah seorang project manager yang ahli.”
- Action (Tindakan): Kasih instruksi yang jelas apa yang harus dia lakukan. Misal: “Buatkan timeline sprint” atau “Analisis isi pikiranku.”
- Context (Konteks): Berikan latar belakang situasi dari instruksinya. Misal: “Aku baru saja pulang kerja dan merasa sangat lelah karena banyak tekanan,” atau “Aku ingin membuat aplikasi finansial”
- Expectation (Ekspektasi): Tentukan hasil akhirnya mau seperti apa. Misal: “Buat dalam bentuk poin-poin yang mudah dibaca” atau “Tuliskan dalam nada bicara yang menyemangati.”
- Constraints (Batasan): Ini poin yang nggak kalah penting. Kasih batasan yang jelas agar hasilnya relevan, seperti batasan budget, durasi waktu (misal: “resep 15 menit”), atau alat yang tersedia (misal: “aku cuma punya satu obeng plus”).
Semakin banyak informasi yang diberikan ke AI (seperti dokumen, gambar, dll) AI akan semakin mengerti dan output yang dikeluarkan akan semakin mendekati ekspetasi kita.
Tips terakhir adalah penggunaan AI tergantung konteksnya. Tidak semua AI diciptakan sama. Setiap AI punya “kepribadian” dan keunggulan masing-masing. Alih-alih cuma setia pada satu aplikasi, aku biasanya memilih mereka tergantung apa yang sedang aku kerjakan.
Misal Gemini untuk membantu menulis, Claude untuk coding dan desain, dan ChatGPT paling balance untuk semuanya.
Mungkin itu tips yang bisa aku bagikan. Pada akhirnya, investasi terbaik sekarang bukan cuma belajar satu tools spesifik, tapi menjaga kemampuan kita untuk terus belajar (learn how to learn). AI adalah alat bantu, dan kita adalah yang mengemudikannya.
[…] AI untuk Kehidupan Sehari-hari […]