Kemarin saat meeting membahas pengembangan AkFina, pak bos tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang cukup menarik: “Menurut kalian, aplikasi ini bisa nggak sih dibuat pakai AI? Kita meeting buat ngerancang ini sudah dua bulan, padahal mungkin kalau pakai AI bisa selesai dalam hitungan jam.”
Pertanyaan itu bikin aku mikir sejenak, dan menjawab pertanyaan tersebut. Tim lain juga menjawab dari sudut pandang masing-masing. Dan bisa aku simpulkan bahwa memang benar sekarang zamannya “vibes coder”. Di LinkedIn lagi ramai banget orang yang bisa bikin banyak project aplikasi dalam waktu singkat berkat bantuan AI. Secara teknis, mungkin saja AI bisa meniru tampilan atau fungsi dasarnya dalam sekejap.
Tapi, ada satu hal yang menurut aku tetap nggak bisa ditiru: Logic dan Kurasi Masalah.

Kalau kita lihat di LinkedIn, banyak orang punya deretan project panjang di portofolionya. Tapi pertanyaannya: apakah mereka sendiri pakai aplikasinya? Belum tentu. Kebanyakan pendekatannya lebih ke “yang penting aplikasinya jadi” daripada “gimana caranya biar orang pakai aplikasi ini”.
Aplikasi-aplikasi buatan AI, dalam hal ini perbandingannya adalah aplikasi pencatat keuangan biasa sering kali cuma memecahkan masalah sementara. Misalnya, aplikasi buat catat pemasukan dan pengeluaran. Tampilannya mungkin bagus, laporannya lengkap. Tapi setelah itu apa? Kita cuma bisa lihat laporan setiap harinya tanpa tahu harus mulai dari mana kalau mau benar-benar meningkatkan kesejahteraan finansial. Di situlah peran Logic dan Kurasi Masalah masuk, hal yang menurut aku belum bisa sepenuhnya ditiru AI.

Aku jadi ingat waktu zaman kuliah dulu. Aku sering banget brainstorming sampai malam, coret-coretan kertas, dan storyboard cuma buat cari solusi gimana caranya masalah lingkungan bisa diselesaikan secara praktis dalam satu genggaman aplikasi.
Proses yang sama juga terjadi di AkFina. Kita melakukan brainstorming berkali-kali bukan cuma untuk bikin fitur, tapi untuk menemukan jawaban kenapa aplikasi ini harus ada dan kenapa harus berbeda. Fokusnya bukan sekadar “bisa jalan”, tapi gimana agar AkFina benar-benar bisa menjawab kebutuhan orang untuk sehat secara finansial.

Bahkan, aku sendiri adalah contoh nyata dari apa yang AkFina coba selesaikan. Waktu awal terlibat, jujur saja aku sama sekali nggak melek finansial. Tapi lewat proses pembangunan aplikasi ini, aku belajar banyak dari pak bos. Dari yang awalnya nol, sekarang aku jadi jauh lebih aware soal investasi, Long-term Funds, sampai pentingnya Emergency Fund (EF).

Aku nggak menyangkal peran AI. Bahkan, aku sendiri sering pakai AI buat membantu tugas sehari-hari atau sekadar iseng coding project kecil (ya, akulah si vibe coder itu). Tapi, meskipun aku bisa bikin aplikasi cepat pakai AI, bukan berarti aku bisa menggantikan orang yang benar-benar paham Business Development dan Product Development. Aplikasi memang makin mudah dibuat, tapi aplikasi yang kompleks tetap butuh pemikiran matang manusia di baliknya agar masalah awal bisa benar-benar terjawab. AI itu alat bantu yang hebat, tapi tetap butuh orang yang paham “medan” untuk mengarahkannya. Tanpa logika dan kurasi yang tepat, aplikasi cuma jadi tumpukan kode yang nggak punya tujuan jangka panjang.
Tulisan ini sebenernya cuma untuk sharing isi kepala aku aja dan tidak bermaksud untuk promosi. Kalau ada yang punya pendapat lain boleh di sharing juga disini. Tapi ngomong-ngomong, bulan ini sudah isi laporan keuangan di AkFina belum?
[…] Baca juga: https://anandak.web.id/2026/04/08/tentang-ai-dan-aplikasi-yang-beneran-punya-solusi/ […]