Day 0: Cerita Perjalanan ke Salatiga
Hari ini adalah “Day 0”, hari keberangkatan menuju tempat pelatihan BSM. Aku, Ari, dan Kang Asep ditugaskan untuk ikut pelatihan ini di Magelang. Jujur, ini pengalaman pertama aku pergi sejauh ini sendiri. Rasanya? Campur aduk antara khawatir dan excited.
Perjalanan dimulai jam 5 pagi. Aku semangat banget karena ini kali pertama aku naik Whoosh dari Stasiun Karawang. Jarak dari rumah ke stasiun ternyata cukup dekat, sekitar 30 menit saja, dengan suasana jalanan yang masih berembun dan bebas macet.

Pas naik Whoosh-nya, aku sempat terpukau. Meski mungkin nggak secepat Shinkansen di Jepang, tapi bisa sampai ke Bandung (Padalarang) cuma dalam waktu 20 menit itu rasanya luar biasa efisien. Di Padalarang, aku dan Ari akhirnya bertemu dengan Kang Asep.
Sebelum lanjut, kami menyempatkan sarapan di coffee shop terdekat. Tapi ya namanya juga anak IT, sambil nunggu makanan datang, laptop tetap harus buka buat beresin kerjaan sebentar. Work-life balance atau work-life integration? Entahlah, yang penting kerjaan tercicil.
Setelah sarapan, kami langsung gas menuju Salatiga lewat tol. Sepanjang perjalanan rasanya nggak melelahkan karena kami banyak mengobrol. Sesekali kami berhenti di rest area untuk beli kopi. Nah, di sini anehnya: biasanya orang minum kopi biar melek, kalau aku malah jadi mengantuk. Rasanya seperti minum obat tidur. Setelah minum, aku sempat ketiduran sebentar dan bangun lagi buat menikmati pemandangan.

Selama di mobil, Kang Asep benar-benar jadi tour guide yang andal. Beliau tahu banget seluk-beluk perjalanan ini, bikin suasana jadi terasa lebih santai dan seru.
Nggak terasa 8 jam berlalu, kami keluar dari tol Salatiga dan langsung disambut oleh gagahnya Gunung Merbabu. Meski gunungnya tertutup kabut karena hujan rintik, tapi tetap saja aku merasa amaze melihat suguhannya.
Satu hal yang bikin kami heran adalah jalanannya yang sepi. Benar-benar beda sama Bekasi atau Bandung yang biasanya penuh kemacetan di sore hari. Begitu sampai di penginapan, aku istirahat sejenak, tapi tetap lanjut rapi-rapi dan buka laptop lagi buat mengerjakan desain brosur.
Malamnya, kami keluar cari makan di tempat yang sederhana. Di sana, obrolan kami makin mengalir sampai jadi deep talk yang berkualitas, sebelum akhirnya kami pulang untuk istirahat total.

Hari ke-0 ini rasanya lebih seperti momen bonding dan refreshing. Santai, seru, bisa lihat pemandangan bagus, dan makan enak. Anggap saja ini “pesta” kecil sebelum nanti kami harus menghadapi realita “makanan rebusan” di tempat pelatihan nanti, hehe.