Epilog Magelang: Tentang Hal-hal yang Menetap Setelah Perjalanan Usai
Melanjutkan cerita sebelumnya. Meskipun nggak ramai tapi tetap lanjut ke part akhir :’D
Baca: Pelatihan BSM PTS A48: Kala Petani Kode Bertemu Kohe
Ternyata ada satu momen di hari Senin yang hampir terlupa: praktik membuat pakan kambing. Kelompokku waktu itu tertinggal paling belakang, jadi kami diminta untuk mempercepat prosesnya.

Saat membuat pakan kambing, karena pakan harus dipadatkan di dalam tong dengan urutan dedak dan rumput yang berlapis, akhirnya aku “dipercaya” untuk masuk ke dalam tong. Bukan seluruh badan, tapi hanya kakiku saja yang masuk dan menginjak-nginjak rumput agar cepat padat. Awalnya takut untuk naik, tapi ada ibu dan bapak yang baik membantu memegangi ku jadi aku bisa berpegangan dengan mereka dan menginjak-nginjak tanpa takut jatuh.
Setelah melewati malam yang nyenyak, aku kembali bangun di jam 4 pagi. Rencananya ingin jalan-jalan pagi dan foto-foto bareng Kang Asep dan Ari, tapi hujan memaksa aku untuk kembali menggulung diri di balik selimut wkwk
Hari itu kami masuk ke materi pembuatan minuman herbal dan teori terapi ala BSM. Teorinya memang fokus ke penyakit tertentu, tapi menurutku praktiknya lebih mirip pijat “kretek”. Aku kebagian sesi praktik sebagai terapis duluan. Pasanganku yang seumuran tampak kesakitan luar biasa saat aku tangani. Dalam hati aku sempat membatin, “Masa sesakit itu, sih?”
Sampai akhirnya tiba giliran aku yang jadi pasien. Karena pasanganku bingung caranya, Pak Porto, instruktur yang fisiknya besar, turun tangan langsung mempraktikkannya padaku. Rasanya? Sakit banget! Aku cuma bisa menahan sakit, meskipun kadang kelepasan untuk teriak dan sampai keluar air mata.
Untungnya, sesi setelah itu jauh lebih rileks: praktik membuat herbal dan jus. Aku dan kelompok membuat berbagai racikan. Satu yang paling membekas adalah saat aku mencoba minum jus untuk mata. Padahal isinya ada wortel dan kacang panjang, tapi rasa seledrinya kuat sekali sampai menutupi semuanya. Rasanya cuma bisa dijelaskan dengan dua kata. Pahit banget. Kalau dijelaskan dengan dua kata lainnya, seledri banget.

Malam harinya, ada kejadian unik. Salah satu teman sekamar, sebut saja Ibu lurah, merasa bosan dengan masakan di penginapan karena beliau terbiasa masak pakai micin dan mengajakku untuk memasak mi. Sebagai yang termuda rasanya enggan untuk menolak. Kira-kira itu jawaban diplomatisnya. Jawaban jujurnya adalah aku juga sedikit kangen makan mi terlebih karena cuacanya dingin. Jadi klop wkwk. Akhirnya, aku diajak keluar buat beli mi instan.

Dengan motor Revo yang lampunya kuning redup, aku menyusuri jalanan yang gelap gulita. Kanan-kiri tidak ada lampu, dingin, dan kami harus menerabas kabut tebal sampai ke jalan utama. Bu Lurah baik sekali, aku disuruh pilih apa saja dan beliau yang bayar semuanya. Alhamdulillah.

Sampai di penginapan, kami masak mi secara diam-diam (Mohon maaf pak Bayu) dan minta cabai ke orang dapur biar makin mantap. Rasanya seperti anak pesantren yang lagi “mabal” atau melanggar aturan, tapi mienya enak sampai 2 bungkus mie habis tanpa sisa.
Hari Rabu menjadi hari perpisahan. Lima hari yang terasa padat itu tiba-tiba berakhir. Kamar yang tadinya penuh barang dan tawa ibu-ibu seketika terasa hampa saat kami bersiap pulang. Rasanya sedikit sedih tapi life must go on.

Dalam perjalanan pulang, kami memutuskan menginap semalam di Semarang. Karena merasa bosan di hotel, aku update status di media sosial. Ternyata teman SMP-ku ada yang bekerja di Semarang dan mengajak bertemu. Aku pun izin ke Kang Asep dan Ari. Rasanya seperti izin ke kakak sendiri.

Kami bertemu di lobi, beli kopi di minimarket, dan mengobrol dua jam di kamar hotel (tenang, temanku ini perempuan) untuk melepas rindu dan saling update kehidupan.

Keesokan harinya, perjalanan pulang berlanjut. Kami sempat melipir ke sebuah kafe untuk WFH dan makan siang. Selama perjalanan sisa, kami mengobrol banyak. Obrolan yang “daging” banget. Kang Asep memberikan banyak masukan berharga yang membuat bonding kami bertiga terasa semakin kuat.

Ini adalah perjalanan jauh pertama aku yang dilakukan sendiri tanpa keluarga, dikelilingi oleh orang-orang baik dan disayang, rasanya benar-benar membekas di ingatan. Padat, melelahkan, tapi sangat berharga.