Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Harian

Keberkahan Bulan Ramadhan

By Kallila
March 11, 2026 2 Min Read
0

Ramadan setiap tahunnya selalu punya cara sendiri untuk terasa “baru”, meski ritualnya tampak sama. Tahun ini, aku memulainya dengan satu rasa syukur yang paling mendasar: kesehatan. Jika tahun-tahun sebelumnya aku sering berjibaku dengan drama asam lambung atau penyakit musiman lainnya, kali ini tubuhku terasa lebih bersahabat. Bisa menjalani puasa dengan raga yang fit adalah berkah pertama yang seringkali lupa kita syukuri sampai kita merasakannya sendiri.

Berkah itu kemudian berlanjut ke meja makan. Menghabiskan waktu berbuka bersama keluarga tetap menjadi jangkar yang menenangkan di tengah padatnya pekerjaan. Namun, yang tidak kusangka adalah urusan buka bersama teman-teman.

Awalnya, aku mengira Ramadan tahun ini akan terasa sepi dari agenda kumpul-kumpul, karena kesibukan masing-masing. Ternyata, dugaanku salah. Sabtu lalu, aku kembali bertemu dengan salah satu teman akrab masa SMA dan adiknya. Kami tidak memilih tempat yang mewah; hanya sebuah kedai mie ayam sederhana. Meski pertemuannya singkat, namun obrolan kami membuatnya terasa lama. Ada rindu yang dilepas di antara kepul asap mie ayam dan es teh manis, sebuah jeda yang sangat berarti di tengah hiruk-pukuk dunia kerja.

Kejutan keberkahan tidak berhenti di situ. Hari Minggu kemarin, aku mengalami momen yang cukup langka: berkumpul dengan teman-teman SMP. Sejak lulus sekolah, kami benar-benar terpencar mengikuti arus hidup masing-masing. Ada yang menetap di Cikarang, merantau ke Solo, hingga yang beradu nasib di Jakarta dan Karawang.

Bertemu mereka rasanya seperti masuk ke dalam mesin waktu. Begitu duduk melingkar, semua gelar profesional dan kedewasaan seolah luntur seketika. Sifat kekanak-kanakan kami keluar lagi, tawa pecah sampai kami lupa waktu. Di sana, kami bukan lagi pekerja atau perantau, kami hanyalah sekumpulan bocah SMP yang kembali pulang ke frekuensi yang sama.

Lalu, ada satu momen yang membuatku tersenyum bangga—mungkin ini terdengar sepele bagi orang lain, tapi sangat berarti bagiku. Tahun ini, untuk pertama kalinya aku membawa pulang parsel dari kantor, Excellent. Biasanya, meja di rumah hanya penuh dengan parsel kiriman teman-teman Ibu. Tapi kali ini, akulah yang menaruh parsel itu di sana.

Isinya sangat bermanfaat; bahan-bahan kebutuhan memasak yang langsung kuserahkan ke Ibu. Tapi tentu saja, untuk urusan snack dan makanan ringan, aku punya kebijakan sendiri: masuk ke simpanan pribadiku untuk teman begadang haha.

Masuk ke pertengahan Ramadan ini, aku merasa sudah diguyur begitu banyak limpahan berkah. Mulai dari kesehatan yang terjaga, momen reuni yang tak terduga, hingga kebanggaan kecil bisa memberi sesuatu untuk orang tua. Ternyata, bahagia itu memang sederhana, asal kita punya waktu untuk menyadarinya.

Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

Transisi Ramadan

Next

Paradoks Mesin Waktu

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Mudik ke Kampung Orang
  • Paradoks Mesin Waktu
  • Keberkahan Bulan Ramadhan
  • Transisi Ramadan
  • Seni Mengalah di Jalanan

Recent Comments

  1. Kallila on Seni Mengalah di Jalanan
  2. Vavai on Seni Mengalah di Jalanan
  3. Pake-Zed ala Gen Z – Shion on Misi Buku Hijau
  4. Vavai on Misi Buku Hijau
  5. Daily Report Generator 2.0: Lebih Aman, Lebih Praktis! – Shion on Gara-gara Males Copas: Bikin Daily Report Generator 1.0
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme