Paradoks Mesin Waktu
Kadang, sepulang kerja atau habis ngerjain tugas yang numpuk, rasanya kepala ini penuh sekali. Di saat-saat lelah begitu, anehnya, pelarian yang kucari bukanlah rencana liburan jauh atau nongkrong di tempat yang sedang ramai. Aku sering melihat di sosial media, melihat Bang Windah teriak-teriak main game atau melihat orang asyik review mainan anak-anak.
Saat ku telusuri, yang menonton video seperti itu ada jutaan orang. Kalau dilihat-lihat, kebanyakan penontonnya ya orang-orang dewasa yang mungkin sama lelahnya sepertiku.
Mungkin, tanpa sadar kita semua memang sedang mencari pelarian. Duduk diam sambil menonton orang main game atau membuka kotak mainan itu rasanya seperti masuk ke mesin waktu. Sejenak, rasanya beban dan pikiran soal kerjaan, tagihan, atau target masa depan itu menguap begitu saja. Kita cuma ingin merasakan lagi senangnya menjadi anak kecil, di mana masalah paling berat dalam hidup hanyalah PR yang lupa dikerjakan. Kita rindu sekali masa-masa di mana hidup sesederhana berlarian bersama teman sampai sore. Entah bermain petak umpet, lempar sendal, atau sepedaan bersama.
Tapi di saat yang sama, aku kadang memperhatikan anak kecil zaman sekarang. Anehnya, pemandangan yang kulihat justru sebaliknya. Mereka malah kelihatan ingin buru-buru menjadi orang dewasa.

Pernah muncul video yang membahas anak belasan tahun yang sudah sibuk membicarakan hustle culture, berjualan produk digital ke sana kemari demi mengejar “1 Miliar Pertama” di usia muda. Atau saat melihat sekeliling, anak-anak yang usianya masih pantas untuk bermain lompat tali, tapi dandanan makeup-nya sudah luar biasa flawless agar terlihat lebih dewasa dan malah sibuk berjoget untuk konten.
Dunia rasanya seperti sedang berputar terbalik. Kita yang sudah dewasa ini mati-matian mencari celah untuk bisa merasakan jadi anak kecil lagi, sekadar mencari hiburan dari sebuah kepenatan. Sedangkan mereka yang masih kecil, rela menukar masa mainnya demi cepat-cepat memakai sepatu kebesaran orang dewasa.

Mungkin mereka merasa ingin mengikuti dengan apa yang selalu lewat di layar handphone mereka. Seolah-olah ada tuntutan untuk buru-buru sukses dan buru-buru dewasa. Padahal, kita yang sudah sampai di fase ini tahu betul: jadi orang dewasa itu capek.

Pada akhirnya, ini membuatku berpikir. Merindukan masa kecil itu sangat wajar. Tidak ada salahnya kok kalau akhir pekan ini kita mau seharian main game atau membeli mainan yang dulu tidak sempat terbeli. Hitung-hitung memberi waktu istirahat sejenak untuk diri sendiri di tengah padatnya jalanan kehidupan.
Tapi mungkin, ini bukan hanya tentang merawat kewarasan kita sendiri. Ini juga pengingat kecil. Kalau ada anak-anak di sekitar kita, biarkanlah mereka menikmati masa kecilnya. Biarkan mereka bermain, tertawa lepas, dan menjadi anak kecil seutuhnya. Karena materi dan kesuksesan masih sangat panjang waktunya untuk dikejar, tapi masa kecil cuma datang satu kali, dan kalau sudah terlewat, ia tidak akan pernah bisa diulang kembali.