Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Perjalanan

Mudik ke Kampung Orang

By Kallila
April 1, 2026 3 Min Read
0

Bagi keluarga, Lebaran biasanya berarti “kemenangan” atas kemacetan Jakarta. Saat semua orang sibuk mengemas koper untuk keluar kota, kami justru santai menikmati Jakarta yang mendadak jadi milik sendiri. Tapi tahun ini, tradisi itu patah. Kakak pertama resmi meminang gadis Kebumen, dan untuk pertama kalinya, kami sekeluarga ikut larut dalam arus manusia menuju Jawa Tengah.

Lucunya, kami berangkat justru saat orang-orang sudah mulai berkemas balik ke kota. Rasanya aneh, melihat jalur sebelah padat merayap sementara kami melaju menuju desa yang sama sekali asing.

Kami tiba di subuh hari, semua orang langsung menyesuaikan diri di rumah sewa. Ada yang istirahat, bikin kopi, jalan-jalan, dan kegiatan lainnya. Kami berusaha menyesuaikan diri dengan suasana perkampungan.

Status ku saat itu sebenarnya adalah Work From Anywhere (WFA). Dalam bayangan, bekerja dari desa bakal sangat puitis: laptop terbuka dengan pemandangan hijau dan udara segar. Namun, realita berkata lain begitu kami masuk ke area pedalaman Kabupaten Kebumen.

Sinyal di sini benar-benar barang mewah. Aku sampai sibuk mengangkat HP tinggi-tinggi ke udara, mondar-mandir mencari sisa-sisa “nyawa” koneksi yang timbul tenggelam. Kartu operator yang biasanya aku gunakan tidak berkutik sama sekali. Solusi terakhirnya adalah kartu andalanku sejak SMA yang bisa mendapatkan sinyal meskipun terkadang suka tidak stabil. Meskipun susah sinyal, tapi pekerjaan masih bisa terselesaikan.

Sore hari, kami merasa bosan karena untuk bermain HP pun sulit karena susah sinyal. sore itu sekitar jam lima, aku dan keluarga memutuskan untuk menuju pantai. Jujur, ini baru kedua kalinya aku benar-benar menyentuh pantai—pengalaman pertama ku cuma di Pulau Seribu, bertahun-tahun lalu. Jadi, rasanya semuanya benar-benar baru dan ajaib.

Begitu sampai, angin laut yang kuat langsung menerjang badan, membawa aroma amis laut yang khas namun entah kenapa terasa sangat menyegarkan. Di bawah kaki, hamparan pasir gelap dengan tekstur yang sangat halus membuat saya takjub. Di hadapan kami, lautan luas membentang seolah tanpa batas.

Di sana, aku dan kakak-kakak ku benar-benar “lepas”. Kami puas sekali bermain air, berlarian di bibir pantai seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat laut. Kami main pasir dan sesekali melakukan aksi “tabrak ombak” yang seru. Meskipun ada rasa ngeri setiap kali melihat ombak tinggi khas pantai selatan yang menggulung ke arah kami, takjubnya jauh lebih besar. Aku bahkan sempat iseng mencicipi air lautnya, dan ya, ternyata asin sekali!

Puncaknya adalah saat matahari mulai terbenam. Meski langit sedikit tertutup awan mendung, pemandangannya tetap magis. Semburat warna oranye tetap terlihat sangat indah, kontras dengan langit yang mulai menggelap. Di momen itu, aku merasa sangat kecil di hadapan alam yang luar biasa indah ini.

Kami mengambil banyak sekali foto untuk mengabadikan momen ini, mulai dari foto Ibu yang tampak bahagia hingga foto kami yang sedang asyik bermain air. Pemandangan laut yang indah ditambah kehadiran orang-orang tersayang membuat ini jadi pengalaman yang tak terlupakan.

Hari kedua adalah intinya: akad nikah kakak pertama. Acaranya berlangsung hangat, sederhana, dan selesai dengan cepat. Namun, kejutan sebenarnya datang saat malam hari. Langit Kebumen tiba-tiba mengamuk. Hujan badai turun dengan beringas, disusul petir yang suaranya menggelegar sampai menggetarkan kaca rumah. Listrik pun padam total.

Baru jam delapan malam, tapi suasana desa sudah sepi senyap seperti tengah malam. Hanya ada suara hujan dan kilatan petir yang sesekali menerangi ruangan yang gelap gulita. Benar-benar suasana sunyi yang tidak akan pernah saya temukan di hiruk-pikuk kota.

Anehnya, di tengah kegelapan dan hilangnya sinyal itulah, perjalanan ini baru terasa “penuh”. Karena tidak ada yang bisa bermain ponsel, kami sekeluarga terpaksa—atau lebih tepatnya dipaksa—untuk saling bicara dan bermain. Kami duduk dalam gelap, mengobrolkan banyak hal, tertawa, dan bermain petasan tanpa gangguan notifikasi.

Pengalaman ini singkat, tapi rasanya sangat baru. Aku berangkat untuk mengantar kakak menikah, tapi pulang dengan membawa kehangatan yang sudah lama tidak saya rasakan. Ternyata, kadang kita perlu “tersesat” di kampung orang dan jauh dari teknologi untuk bisa benar-benar menemukan kembali arti kebersamaan keluarga.

Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

Paradoks Mesin Waktu

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Mudik ke Kampung Orang
  • Paradoks Mesin Waktu
  • Keberkahan Bulan Ramadhan
  • Transisi Ramadan
  • Seni Mengalah di Jalanan

Recent Comments

  1. Kallila on Seni Mengalah di Jalanan
  2. Vavai on Seni Mengalah di Jalanan
  3. Pake-Zed ala Gen Z – Shion on Misi Buku Hijau
  4. Vavai on Misi Buku Hijau
  5. Daily Report Generator 2.0: Lebih Aman, Lebih Praktis! – Shion on Gara-gara Males Copas: Bikin Daily Report Generator 1.0
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme