Pelatihan BSM PTS A48: Kala Petani Kode Bertemu Kohe
Awalnya niatnya untuk dibikin ceritanya setiap hari, mungkin jadinya kayak diary. Tapi ternyata ga sanggup. Jadi akan ku ceritakan saja secara keseluruhannya π
Setelah malam perkenalan yang hangat, aku masuk ke kamar yang berisi enam orang. Rencananya sederhana: aku ingin dikenal sebagai karyawan biasa saja. Tapi rencana itu langsung buyar saat salah satu ibu di kamar bertanya, “Kamu kerja di mana, neng?”
Aku tertegun sejenak. “Ehm… di perusahaan IT, Bu,” jawabku jujur. Aku memang payah kalau soal berbohong secara spontan. Alhasil, dalam sekejap, identitas “Anak IT” langsung melekat padaku selama pelatihan berlangsung. Malam itu ditutup dengan obrolan ringan dan aku menyetel alarm pukul 05.30, optimis bisa bangun santai sebelum kelas dimulai jam 7 pagi.
Pukul 4 pagi, aku terbangun oleh suara grasak-grusuk. Ternyata ibu-ibu teman sekamarku sudah bangun dan mulai bersiap dengan luar biasa rajin. Demi menjaga gengsi (alias jaim) agar tidak terlihat malas sebagai anak muda, aku pun terpaksa bangkit dari kasur dan ikut bersiap lebih awal. Rupanya, di sini kedisiplinan bukan cuma soal aturan, tapi soal “persaingan sehat” di pagi buta.
Awalnya aku sempat khawatir soal makanan. Bang Indra (alumni sebelumnya) bilang kalau rasa makanannya hambar. Namun, realitanya justru sebaliknya; banyak makanan baru yang belum pernah kucoba ternyata rasanya enak-enak saja.
Tantangan sebenarnya justru ada di frekuensi makan. Kami makan lima kali sehari (tiga kali makan berat, dua kali coffee break). Labu kuning di sesi coffee break adalah juara yang rasanya masih terbayang sampai sekarang. Tapi, karena perutku sensitif jika makan terlalu awal, aku harus membatasi diri agar tetap bisa fokus di kelas tanpa drama sakit perut. Oh, soal minuman herbal? Baunya jamu, rasanya hambar, cukup sekali coba saja untuk pengalaman.

Kelas berlangsung dari jam 7 pagi sampai 10 malam termasuk ISOMA. Melelahkan? Pasti. Bayangkan duduk mendengarkan Pak Bayu atau Pak Bambang menjelaskan konsep pertanian secara spesifik. Di sekelilingku, kepala bapak-bapak mulai mengangguk-angguk, bukan karena setuju, tapi karena menahan kantuk bak sedang mendengarkan musik rock.
Meski konsepnya kadang tidak langsung relate dengan duniaku, pemikiran yang mereka bagikan sangat menarik. Dan lucunya, label “Anak IT” membuatku jadi teknisi dadakan di akhir sesi; mulai dari urusan WiFi yang tidak konek sampai registrasi kartu SIM. Ternyata bagi mereka, anak IT adalah solusi untuk segala hal yang berbau digital.
Hari Minggu kami praktik membuat pupuk dari kohe (kotoran hewan). Lucunya, saat pembagian tugas kelompok, seorang ibu nyeletuk, “Biar anak IT saja yang bagian dokumentasi.” Jadilah aku fotografer dan videografer resmi. Bau menyengat dari kohe benar-benar menembus ke hidung meski sudah memakai masker, sampai aku harus menahan napas agar tidak muntah. Benar-benar pengalaman yang “beraroma”.

Di hari Senin kami membuat bedengan dan praktik menanam. Ini jauh lebih menyenangkan daripada mengaduk pupuk, meski tenaga terkuras habis untuk mencangkul dan mengangkat karung tanah. Di sela istirahat setelah praktik, aku mulai mengobrol dengan peserta lain. Saat ditanya alasan ikut pelatihan, aku bercerita bahwa aku sedang mengembangkan aplikasi manajemen pertanian (Sazara). Hitung-hitung promosi halus sambil menyerap aspirasi mereka langsung dari lapangan.

Malam harinya, rasa lelah itu seolah hilang saat bertemu air dingin khas pegunungan. Tidurku jadi jauh lebih nyenyak dari biasanya. Cerita kali ini mungkin sampai di sini dulu, kalau ramai bisa lanjut part 2
Ini lanjutannya mana, Kal?
sudah pak π
https://anandak.web.id/2026/05/07/epilog-magelang-tentang-hal-hal-yang-menetap-setelah-perjalanan-usai/
[…] Baca: Pelatihan BSM PTS A48: Kala Petani Kode Bertemu Kohe […]