Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
ProsesRefleksi

Dialog dengan Diri Masa Lalu

By Kallila
June 19, 2026 3 Min Read
1

Di tengah riuhnya jalanan waktu mau berangkat ke kantor naik motor, sambil mendengarkan lagu Mesin Waktu – Budi Doremi. Tiba-tiba aku kepikiran sesuatu.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga melihat bagaimana hidup berjalan. Kalau ada teknologi yang bisa bikin aku kirim pesan singkat ke diri aku sendiri di masa lalu. Mungkin ini adalah pesan yang paling ingin aku sampaikan.

Pertama, aku ingin bilang terima kasih karena dulu kamu suka banget utak-atik banyak hal. Makasih sudah mau belajar editing, desain, musik, dan hal-hal acak lainnya. Waktu itu mungkin cuma karena penasaran atau iseng, tapi tahu nggak? Semua skill itu kepake sekarang.

Terus, makasih juga sudah bertahan di OSIS waktu itu, walaupun konsekuensinya sempat dibenci satu kelas. Pengalaman itu emang nggak enak banget dijalani, tapi dari sanalah kamu belajar cara membuat event, menyusun dokumen-dokumen penting, dan menghadapi berbagai macam karakter orang. Pengalaman itu jadi modal mental yang kuat buat aku hari ini.

Bergeser ke lima tahun lalu, ini adalah momen di mana isi kepala aku cuma penuh sama kekhawatiran tentang masa depan. Aku ingat banget betapa bingungnya aku waktu harus memilih jurusan kuliah. Di saat teman-teman yang lain sudah mantap mau masuk kesehatan atau bidang lainnya, aku masih blank karena merasa nggak punya cita-cita. Aku sampai harus ikut berbagai tes kepribadian dan MBTI cuma buat cari tahu apa sebenarnya passion aku. Sampai akhirnya, pilihan mengerucut ke dua hal: Hukum atau Teknik Informatika (TI). Dan ya, akhirnya aku memilih TI.

Tapi jalan menuju ke sana nggak langsung mulus. Ada saatnya aku merasa menjadi orang paling gagal karena sudah belajar mati-matian untuk SBMPTN tapi di hari mendekati ujian aku malah sakit yang membuatku tidak bisa mengikuti ujian.

Saat itu, rasanya dunia runtuh. Motivasi belajar langsung hilang entah ke mana. Keadaan makin terasa berat waktu dihadapkan pada pilihan yang diberikan oleh keluarga: mau kerja dulu di pabrik sampai bisa biayai kuliah sendiri atau langsung nikah aja (padahal jodoh pun nggak ada). Dua pilihan yang seolah-olah mengisyaratkan kalau perjalanan pendidikan aku rasanya harus berhenti di sini.

Kalau bisa kembali ke momen itu, aku cuma ingin menepuk pundak diriku sendiri dan bilang: “Terima kasih ya, sudah memilih untuk nggak menyerah.”

Di tengah hilangnya motivasi dan pilihan hidup yang menjepit, aku bersyukur diriku yang dulu punya mental keras kepala untuk urusan pendidikan. Alih-alih pasrah sama keadaan, aku malah mengambil buku lagi, belajar ulang, dan mendaftar SBMPN untuk mengincar politeknik. Nggak cuma itu, aku juga nekat mencoba peruntungan dengan mendaftar beasiswa ke kampus lain.

Hasil dari keras kepala itu ternyata berbuah manis. Bukan cuma lolos di politeknik, tapi pintu rezeki lain juga terbuka: aku lolos beasiswa penuh di Universitas Esa Unggul. Jalur yang akhirnya mengubah jalan hidup aku sampai bisa di titik sekarang.

Dari situ aku belajar satu hal penting: gagal di satu jalur bukan berarti semua pintu tertutup. Jalannya mungkin memutar, tapi ternyata arahnya tepat. Langkah-langkah kecil yang dulu diambil sambil menahan cemas, ternyata yang membentuk pondasi aku hari ini.

Terakhir, aku mau berterima kasih kepada diriku di satu tahun yang lalu. Terima kasih karena sudah nggak menyerah buat cari kerja. Dan yang paling penting: terima kasih karena sudah berhasil menurunkan ego sebagai seorang fresh graduate.

Dulu, sempat ada masa di mana aku cuma mengincar dan berpatokan pada big company. Tapi akhirnya, aku memilih untuk lebih realistis dan membuka kesempatan baru. Keputusan itu membawa aku ke tempat kerja yang sekarang. Walaupun mungkin dari segi tempat terlihat sederhana, tapi lingkungannya sangat-sangat suportif. Sesuatu yang nilainya jauh lebih mahal daripada sekadar nama besar perusahaan.

Melihat ke belakang, aku bersyukur sama semua keputusan, kesalahan, dan langkah-langkah yang diambil sama diri aku di masa lalu. Titik rendah itu memang nyata dan rasanya sakit banget saat dijalani, tapi tanpa semua proses itu, aku nggak bakal sampai di sini.

Jadi, buat diriku di masa lalu: Thank you sudah berani mengambil keputusan untuk terus berjuang. Pilihan-pilihanmu hari itu nggak salah, dan kita berhasil melewatinya dengan sangat baik. We’re doing just fine.

Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

Catatan Farm Visit Pertama

Next

Menjemput Peluang Tak Terduga Lewat Sazara

One Comment
  1. Belajar Menurunkan Ego - Shion says:
    June 24, 2026 at 8:31 am

    […] tulisan sebelumnya, kalau diingat-ingat lagi masa-masa setelah lulus kuliah atau pas lagi gencar-gencarnya cari kerja, […]

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Jalan Baru, Cara Pandang Baru
  • Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Kedua
  • Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama
  • Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
  • Matraman, Kemarahan Warga, dan yang Terlambat Hadir

Recent Comments

  1. Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama - Shion on Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
  2. Kallila on Kita Tidak Kekurangan Waktu, Kita Kebanyakan Distraksi
  3. Kallila on Mencoba Membuat AI Agent Sendiri
  4. Zahwa on Mencoba Membuat AI Agent Sendiri
  5. vavai on Kita Tidak Kekurangan Waktu, Kita Kebanyakan Distraksi
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme