Skip to content
-
Shion
Shion
  • Home
  • Behind the Screen
  • Home
  • Behind the Screen
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Refleksi

Belajar Menurunkan Ego

By Kallila
June 24, 2026 2 Min Read
0

Dari tulisan sebelumnya, kalau diingat-ingat lagi masa-masa setelah lulus kuliah atau pas lagi gencar-gencarnya cari kerja, aku sering senyum-senyum sendiri. Dulu, sebagai seorang fresh graduate, isi kepala aku idealis banget. Ego rasanya tinggi menjulang. Target aku waktu itu cuma satu: harus bisa masuk big company atau perusahaan dengan nama besar yang kalau disebut saat tongkrongan, orang-orang langsung tahu.

Rasanya kalau belum masuk perusahaan mentereng, gelar sarjana yang diperjuangkan kemarin itu belum sah. Dan rasanya seperti tertinggal oleh teman-teman yang sudah punya pekerjaan di gedung-gedung SCBD.

Sampai akhirnya realita dunia kerja menampar aku pelan-pelan. Proses cari kerja ternyata nggak semudah membalikkan telapak tangan. Ada fase di mana aku sempat merasa lelah, kirim ratusan lamaran tapi hasilnya nihil, sampai akhirnya di titik tertentu, aku dipaksa keadaan untuk mulai menurunkan ego. Aku mulai mencoba realistis dan membuka kesempatan untuk perusahaan yang skalanya lebih kecil.

Keputusan menurunkan ego itu akhirnya membawa aku ke tempat kerja yang sekarang.

Jujur, kalau dilihat dari luar, tempatnya mungkin terlihat sederhana. Nggak ada gedung pencakar langit yang mewah atau fasilitas kantor yang estetik kaya di media sosial. Tapi setelah masuk dan menjalani rutinitas di sini, aku justru menemukan sesuatu yang nilainya jauh lebih mahal dari sekadar nama besar perusahaan: lingkungan kerja yang sangat supportive.

Di sini, aku beruntung banget bisa ketemu sama tim yang solid dan suportif. Kultur kerjanya sangat menghargai proses diskusi, jadi sebagai personil tim, aku merasa dikasih ruang yang luas untuk belajar dan berkembang secara profesional. Eksekusi proyek pun terasa jauh lebih terarah karena komunikasinya dua arah dan selalu fokus pada solusi.

Bekerja di lingkungan seperti ini bikin aku sadar akan satu hal. Ternyata kenyamanan kerja dan kedamaian mental itu nggak selalu berbanding lurus dengan seberapa mentereng nama perusahaan di profil LinkedIn kita.

Buat apa punya nama tempat kerja yang keren kalau setiap hari Minggu malam kita harus cemas setengah mati menghadapi hari Senin karena lingkungannya toxic? Belum lagi kalau setiap hasil kerja keras dan kontribusi yang sudah kita upayakan sama sekali nggak dihargai. Rasanya pasti bakal melelahkan banget secara mental.

Menurunkan ego setahun yang lalu ternyata adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Dari proses ini aku belajar kalau tempat bertumbuh yang baik itu nggak harus selalu megah. Kadang, tempat yang sederhana justru memberikan ruang paling luas untuk kita berkembang, belajar banyak hal baru, dan yang terpenting: tetap bisa menjaga kesehatan mental.

Author

Kallila

Follow Me
Other Articles
Previous

Menjemput Peluang Tak Terduga Lewat Sazara

Next

Ketiduran

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Jalan Baru, Cara Pandang Baru
  • Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Kedua
  • Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama
  • Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
  • Matraman, Kemarahan Warga, dan yang Terlambat Hadir

Recent Comments

  1. Di Balik Layar MPP Sazara x TBINA: Hari Pertama - Shion on Sehari Berburu Goodie Bag untuk MPP Sazara
  2. Kallila on Kita Tidak Kekurangan Waktu, Kita Kebanyakan Distraksi
  3. Kallila on Mencoba Membuat AI Agent Sendiri
  4. Zahwa on Mencoba Membuat AI Agent Sendiri
  5. vavai on Kita Tidak Kekurangan Waktu, Kita Kebanyakan Distraksi
Copyright 2026 — Shion. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme